Postingan

Seni, Keindahan, dan Kebebasan Mencipta

Gambar
Ket. Ilustrasi : Lukisan karya EdoPop, Negeri Setelah Tidur   39x30cm, AOC, 2026. Seni, Keindahan, dan Kebebasan Mencipta. Oleh Edo Pop. Seni membutuhkan kebebasan untuk mencipta, sementara keindahan membutuhkan ruang untuk dialami. Karena itu, persoalan seni dalam ruang keagamaan bukan terutama soal halal atau haram, melainkan soal siapa yang berhak menentukan cara manusia melihat, merasakan, dan menafsirkan kenyataan. Ketika sebuah lukisan harus diadili sebelum dilihat, musik dicurigai sebelum didengarkan, dan tradisi lokal ditolak sebelum dipahami, yang sedang bekerja bukan lagi sekadar pertimbangan moral, melainkan kecenderungan menjadikan satu tafsir sebagai ukuran tunggal kehidupan. Agama memiliki wilayah normatif. Fikih memiliki fungsi memberi batas hukum. Kalam memiliki wilayah teologis. Estetika berbicara tentang keindahan, filsafat tentang keberadaan dan makna, sementara tasawuf membuka ruang bagi pengalaman batin dan yang transenden. Semua memiliki tempatnya....

Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Menjadi Komoditas

Gambar
​ Dunia Kreatif Anak: Ketika Kepolosan Menjadi Komoditas Oleh Edo Pop Masih terbayang oleh saya, belasan tahun lalu, ketika anak saya masih kecil, jauh sebelum kemudian ia memilih kuliah di bidang seni rupa. Pada masa itu, saya sering melihatnya menggambar dengan pensil di atas selembar kertas. Ia menggambar tanpa banyak pertimbangan mengenai benar atau salah, baik atau buruk, ataupun bagus atau tidak bagus. Garis-garis yang dibuatnya terkadang belum membentuk sesuatu yang mudah saya kenali. Ada bentuk yang tampak belum selesai, garis yang berhenti secara tiba-tiba, dan bidang-bidang yang bagi pandangan orang dewasa seolah tidak memiliki hubungan satu sama lain. Namun, ia menggambar dengan keyakinan penuh, seolah-olah apa yang sedang dibuatnya memiliki dunia dan makna tersendiri. Sebagai seorang pelukis, tentu saya memiliki pengetahuan dan pengalaman yang memungkinkan saya mengajarinya berbagai hal mengenai menggambar. Saya dapat memperkenalkan perspektif, proporsi, komposi...

Pertunjukan Gambar di Ayunan Ombak Nada BulanJingga.

Gambar
BulanJingga bukan senja yang diam. Ia adalah senja yang terus bernapas.~ Yang paling menarik, dan mungkin paling layak kucatat untuk pengembangan lebih jauh, adalah bagaimana nama BulanJingga sesungguhnya sudah mewakili latar waktu pertunjukan mereka, Bulan dan Jingga adalah dua penanda yang saling menyangkal secara logis (bulan adalah malam, jingga adalah senja) namun justru dari pertemuan itulah lahir sebuah zona waktu imajiner: bukan siang, bukan malam, melainkan ambang. Dan ambang itulah yang harus kami MelanCholis ; aku Cholsverde dan kak Mailani Sumelang hadirkan lewat permainan visual, lewat gambar-gambar yang kami proyeksikan, lewat bayangan bunga dan tekstur yang menempel di layar seperti kulit ombak yang mengayun dan berkawah. BulanJingga. Ia datang padaku bukan lewat panggung, bukan lewat rekaman, melainkan lewat suara di ujung notif, ketika waktu sedang dalam masa pergantiannya sendiri. Ibu Shelly, dosen artistik muda di jurusan tempatku dulu menimba seni panggu...

Catatan Reflektif : MERAWAT RUANG JEDA

Gambar
Catatan Reflektif: Merawat Ruang Jeda Oleh Edo Pop JOGJA| Minggu malam, 19 Juli 2026, sekitar pukul 19.00 WIB, Bale Black Box Laboratory, Sewon Bantul Jogja, mulai dipenuhi orang-orang yang datang dari berbagai latar belakang. Ruang seni yang didirikan pada 2024 oleh perupa Galam Zulkifli, bersama pasangan suami istri Pungkas Nugroho dan Dewi sebagai pengelola sekaligus penggerak ruang, hadir sebagai ikhtiar menghadirkan tempat bagi perjumpaan, percakapan, dan tumbuhnya praktik seni yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Malam itu pameran Ruang Jeda: “ LEPASKAN ” dibuka oleh Dr. Syamsul Barry, S.Sn., M.Hum., akademisi ISBI Bandung. Setelah sambutan dan seremoni pembukaan selesai, para pengunjung perlahan memasuki ruang pamer. Pada saat itulah perhatian saya mulai bergeser. Saya tidak lagi melihat pembukaan sebagai sebuah acara, melainkan sebagai sebuah peristiwa kehidupan. Orang-orang bergerak perlahan di antara karya. Percakapan kecil muncul di berbagai sudut ruang. Sebagian berdir...

Ruang yang Berpindah Catatan Reflektif: Membaca Ruang Diri

Gambar
Ruang yang Berpindah Catatan Reflektif: Membaca Ruang Diri Oleh Edo Pop Dulu saya menganggap gagasan bahwa manusia sesungguhnya hidup melalui perjumpaan hanyalah sebuah renungan filsafat yang indah. Bertahun-tahun kemudian, saya mulai merasakan kebenarannya. Sebab setiap perjumpaan tidak sekadar menghadirkan orang lain ke hadapan kita, tetapi juga perlahan mengubah cara kita memandang diri sendiri dan dunia yang kita huni. Barangkali karena itulah saya juga mulai memahami bahwa sebuah studio bukan pertama-tama soal bangunan, melainkan tentang kehidupan yang tumbuh di dalamnya. Saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa sebuah studio adalah bangunan. Selama bertahun-tahun saya berkarya di rumah bersama Tiang Senja dan Arus Siang. Orang-orang mengenalnya sebagai Setara Art Studio, tetapi bagi kami studio itu tidak pernah dibatasi oleh dinding, meja kerja, atau rak tempat menyimpan cat dan kanvas. Studio tumbuh dari kebiasaan hidup bersama. Ia hadir dalam percakap...