Tiang Senja : Estetika Kebebasan, Refleksi Subjektif, dan Dialektika Urban

Bagi Tiang Senja, kategori substansial dalam proses penciptaan bukan semata pada teknik atau medium, melainkan pada gagasan dan tema yang terus ia ulik melalui lelaku kreatif. Ia memadukan berbagai unsur rupa menjadi kesatuan yang artistik, unik, sekaligus khas. Finalitas dari kerja kreatif itu terletak pada ekspresi bebas yang sangat personal, yang baginya lebih penting daripada sekadar mengikuti standar estetik yang baku.
Karya Tiang Senja : Menakar Hujan, Seni Instalasi, pada pameran The Story of Giri Séla Kandha, Jogja Gallery | 10–20 Agustus 2025

Seni dalam pandangan Tiang Senja adalah ruang permainan yang menyenangkan, tempat ia merasa paling nyaman dalam mengambil keputusan artistik. Ia menolak keterikatan pada konvensi, bahkan mengabaikan “kearifan eksistensi” yang seringkali menuntut seniman tunduk pada fungsi moral, sosial, atau politis. Baginya, mengabaikan kebebasan mencipta sama artinya dengan meniadakan kenikmatan seni itu sendiri. Maka, tindakan mencipta adalah penampakan narsistik yang wajar—sebuah kepuasan instingtual, cara membebaskan energi agresif superego ke dalam bentuk estetis.
Proses Kreatif Tiang Senja

Namun demikian, ia tidak berhenti pada kreasi bebas semata. Berkarya baginya adalah refleksi psikologis, bukan sekadar menjejalkan gagasan visual. Ia menekankan pentingnya komunikasi gagasan yang lahir dari imajinasi, pengalaman keindahan, serta dorongan untuk menafsir ulang realitas. Seninya menolak klaim “berguna” atau “mulia” sebagaimana seni realisme sosialis yang berfungsi moralistik. Estetika Tiang Senja justru berangkat dari pengalaman batin, ketidakpastian, misteri, dan keraguan—suatu sikap yang menolak kebenaran final.

Pilihan estetikanya jatuh pada gaya abstrak, karena baginya gaya ini paling sesuai dengan keyakinan bahwa seni bersifat personal, subjektif, dan individual. Melalui abstraksi, ia membuka jalan reflektif bagi kreativitas: menghadirkan kembali objek-objek dari alam lingkungan maupun buatan manusia dalam bentuk baru yang jujur, intens, dan serius. Abstraksi menjadi bahasa elips yang menantang apresian untuk membaca dan menilai secara bebas.
Beberapa Karya Tiang Senja di Pameran Tunggalnya : Api dalam Titik Perhatian, Soboman Art Space Yogyakarta, 2024

Tiang Senja memahami aktivitas kreatif seni sebagai proses relasional—mengumpulkan, mengurai, dan mereduksi pengalaman sehari-hari menjadi saluran ekspresi. Proses itu baginya sama biologisnya dengan kebutuhan dasar manusia: mengatur nafsu makan atau membuang kotoran. Ada kepuasan yang berayun antara tarik dan tolak, cinta dan benci, terikat dan merdeka. Melalui seni, ia membangun ukuran subjektif atas alienasi yang ia alami di tengah realitas urban. Ia meragukan kepastian masa depan, namun meyakini bahwa kreativitas hari ini adalah satu-satunya cara menghadapi kebohongan hari ini dan ketidakpastian esok.

Dalam praktiknya, ia terus memperhatikan detail kecil yang sering diabaikan, lalu mengolahnya menjadi ruang dialektis yang memperbesar kesadaran kritis. Tak heran karya-karyanya, tidak hanya berupa lukisan, ada juga  karya  tiga dimensi  yang kerap mengabstraksi problematika kehidupan manusia, alam lingkungan dan budaya urban: tingkah laku masyarakat, citra benda dari lintas kelas sosial, hingga paradoks politik dan budaya.

Secara visual, karya seni Tiang Senja menampilkan bentuk samar, muram, dan tumpang tindih—seperti dinding kota yang dingin dan kusam. Kabel listrik berjalin, jendela kaca menjulang kaku, gedung mewah bertekstur halus namun kosong. Lahan kering berkapur, bahkan bara api dan abu dari sisa kebakaran hutan. Warna hitam dengan torehan ritmis padat menjadi imaji yang menekan sekaligus membebaskan. Semua itu menghadirkan dimensi simbolik yang menyiratkan kritik sosial terhadap alam lingkungan  dan  kehidupan manusia urban yang paradoksal dan manipulatif.

Daya tarik karya Tiang Senja terletak pada keberaniannya menyelami sisi gelap kehidupan: menghadirkan kegelisahan, ketakutan, dan harapan dalam bahasa rupa yang formalistik sekaligus emosional. Ia menempatkan estetika bukan sebagai instrumen moral, tetapi sebagai medan kontemplasi. Dari sana lahirlah pencarian eksistensi manusia yang rapuh, teralienasi, namun tetap penuh kemungkinan.

Pada akhirnya, Tiang Senja menegaskan seni sebagai proses eksistensial—ruang untuk merdeka, ragu, sekaligus berani. Ruang di mana estetika bukan lagi sekadar “keindahan” yang menyenangkan mata, melainkan cermin bagi pergulatan diri, masyarakat, alam lingkungan dan dunia urban yang terus berubah.

----------

Oleh: Edo Pop, Perupa dan  penggiat GugumTapa.

Lampiran Tambahan :

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMORI DAN WARNA Khas Gabrielle

MENELISIK API, PERHATIAN, SENJA, DAN SPIRITUAL EKOLOGIS. Oleh Cholsverde (Pegiat Gugum Tapa, Seniman Teater dan Drawing Performance)