Pertunjukan Gambar di Ayunan Ombak Nada BulanJingga.


BulanJingga bukan senja yang diam. Ia adalah senja yang terus bernapas.~


Yang paling menarik, dan mungkin paling layak kucatat untuk pengembangan lebih jauh, adalah bagaimana nama BulanJingga sesungguhnya sudah mewakili latar waktu pertunjukan mereka, Bulan dan Jingga adalah dua penanda yang saling menyangkal secara logis (bulan adalah malam, jingga adalah senja) namun justru dari pertemuan itulah lahir sebuah zona waktu imajiner: bukan siang, bukan malam, melainkan ambang. Dan ambang itulah yang harus kami MelanCholis ; aku Cholsverde dan kak Mailani Sumelang hadirkan lewat permainan visual, lewat gambar-gambar yang kami proyeksikan, lewat bayangan bunga dan tekstur yang menempel di layar seperti kulit ombak yang mengayun dan berkawah.


BulanJingga. Ia datang padaku bukan lewat panggung, bukan lewat rekaman, melainkan lewat suara di ujung notif, ketika waktu sedang dalam masa pergantiannya sendiri. Ibu Shelly, dosen artistik muda di jurusan tempatku dulu menimba seni panggung teater, rupa dan gerak, Jurusan Teater ISI Yogyakarta. Seorang ibu, Perempuan yang bisa dijumpai pada fokusnya dengan basis seni rupa dan panggung. Malam itu ia menyampaikan sebuah ajakan: berkolaborasi dengan ground band suaminya, Mas Lintar sebagai gitaris, mempertemukan kami juga kepada para musisi keren,  mas Tauhid (bass), om Bagus (pianis), dan mas Tomy (Drummer) di Grup Band Seni nya yang berdomisili di Jogja: BulanJingga, lewat Panggung ArtJog 2026.


Dan sebagaimana hal yang menarik yakni, menerjemahkan bunyi pada imaji sebelum mengetahui makna, itu sangat manis dan seru!. Jingga selalu kubayangkan sebagai warna transisi , bukan siang yang gagah, bukan malam yang muram, melainkan jeda di antara keduanya. Warna yang tidak pernah memaksa, hanya menyerahkan diri pada pergantian. Aku membayangkan kelembutan. Aku membayangkan hening.


Namun Bayangan itu sedikit meleset. dan justru dari selisih itulah lahir beberapa ketidakterdugaan yang kucatat. Ketika daftar lagu dikirimkan, apa yang kudengar bukanlah senja sunyi yang kubayangkan, melainkan seperti senja yang berada di samudra, mengalun, berombak, penuh ritme yang dramatis, kaya akan dinamika. BulanJingga, yang namanya seperti menawarkan keremangan, ternyata menyimpan kekuatan besar di dalam setiap instrumentalnya, mereka para senior seni musik, piawai membangun dramatik latar suasana, menempatkan tensi dan jeda dengan kepekaan yang membuat siapa pun yang berbagi panggung dengan mereka diajak ikut bergerak lebih hidup dan bernafas dengan instrumentalnya. 


Aku tidak berjalan sendiri ke dalam kolaborasi ini. Aku mengajak mbak yuk Mailani Sumelang, partner dalam duo Melancholis kami, untuk turut menerima tawaran itu. Bersama, kami membawa material-material kami sendiri, barang-barang yang selama ini menjadi kosakata visual kami, medium yang biasanya kami kendalikan dengan tenang, dengan jeda, dengan waktu yang cukup untuk bernapas di antara satu gestur dan gestur berikutnya.


Namun di sini, kita berjumpa dengan musik yang mengalun penuh dan tanpa henti itu menawarkan kami bergerak dalam tempo yang berbeda dari kebiasaan kami. Kami, Melancholis, nama yang sendiri sudah menyimpan kemurungan sebagai identitas, tiba-tiba mendapati diri kami kehabisan material di tengah pertunjukan. Dalam selisih waktu yang begitu cepat itu, sebenarnya bukan pada karena kurang persiapan, tapi karena kami berhadapan dengan kelimpahan energi yang mengalir deras, yang menuntun kami untuk terus menemukan cara baru merespons, alih-alih menunggu selesai berpikir dan bermain.


Ada sesuatu yang sejujurnya, dan karenanya menggugah sekaligus indah, dari pengalaman kehabisan itu. Musik-musiknya bak menerobos batas kami sebagai pegiat seni teater berbasis proyeksi dan gambar: bahwa objek dan material, sebanyak apa pun kami kumpulkan, punya batas fisiknya sendiri, sementara musik yang dibangun dengan begitu penuh dan mengalir seperti milik BulanJingga mengajak kami untuk terus tumbuh mengikuti deras-durasinya.


Kolaborasi ini, sangat menarik bagi kami, bukan sekadar pengalaman panggung, melainkan sebuah teguran halus tentang bagaimana langkah kami bekerja tidak hanya dengan konsep, namun juga dengan kejadian pertemuan. Selama ini kami selalu berusaha meletakkan gagasan di atas kejadian alat, tapi malam itu, di panggung ArtJog, kami belajar bahwa gagasan pun bisa terlalu cepat mengambil kesimpulan sebelum bertemu kenyataan bunyi. Romantistik dalam membayangkan sebuah nama harus selalu diuji oleh kenyataan yang lebih kaya dari yang kita sketsa di awal.


Pertemuan Pertunjukan Gambar bersama Seni Musik ini, mengajarkan kami untuk tidak sekedar sedang mengiringi musik mereka. ada yang lebih menantang yakni kami diajak sedang mengimajikan sebuah dramatikal nada menjadi mozaik gambar dan bayangan. 


Pada akhirnya, aku sadar bahwa ayunan itu tidak pernah benar-benar berhenti di panggung malam itu. Ia terus terbawa pulang, menempel di ingatan seperti bayangan yang enggan lepas dari layar. BulanJingga mengajarkan kami sesuatu yang sederhana namun sulit diterima seorang pegiat proyeksi: bahwa gambar tidak harus selalu menunggu bunyi selesai bercerita untuk mulai bermakna. Kadang ia justru harus berani hanyut lebih dulu, membiarkan ombak menuntun ke mana bayangan akan jatuh, sebelum konsep sempat menyusun dirinya sendiri.


Catatan ini kutinggalkan sebagai satu babak yang belum selesai bertumbuh, sebagaimana ombak yang tak pernah benar-benar diam bahkan setelah pecah di tepian. Bayangan yang kami rancang dengan penuh kelembutan justru harus diuji oleh kenyataan yang jauh lebih deras dari yang kami sketsakan, dan dari situlah kami belajar bahwa gagasan sebaik apa pun tetap perlu bertemu kejadian untuk benar-benar hidup. BulanJingga bukan hanya nama grup musik yang bertemu di panggung yang kami singgahi satu malam; ia menjadi suatu ambang yang mengingatkan bahwa setiap karya, sehalus apa pun niatnya, harus bersedia diayun oleh sesuatu yang tak sepenuhnya bisa kami kendalikan.


*Catatan seni - kolaborasi dengan BulanJingga, Panggung ArtJog 2026*

Oleh Cholsverde, Pegiat Seni Teater dan Gambar, dan Pegiat Lembaga Seni GugumTapa, Drawing Performatif, MelanCholis, Neat Project, Paravan Art Performance, Pasparto, Garis Berlayar, Jogja Skopos Lab dan Indonesia Raya Menggambar


Catatan ini kutulis sebagai bagian dari refleksi menuju album personal, kemungkinan menjadi salah satu babak dalam benang merah  mozaik *Community*

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMORI DAN WARNA Khas Gabrielle

Pameran “Anak & Seni Rupa” Hadirkan Dunia Imajinasi Anak di Rumah DAS

Pameran “Sangkan Paraning Gambar” Hadir di Magelang, Membaca Kehidupan Lewat Garis dan Jejak Batin