Catatan Apresiasi: Ekspresi dan Impresi pada Rupa 3 Rupa

-----
Oleh: Edo Pop, pengiat Gugum tapa Yogyakarta.
***

(Yogyakarta, April 2026). Tajuk pameran “Rupa 3 Rupa” menampilkan tiga seniman: Afnan Malay, Kaji Habeb, dan Luwi Darto, masing-masing dengan gaya khas yang berbeda. Pameran ini tidak hanya menandai perbedaan, tetapi juga merayakan keragaman perspektif dalam mengolah pengalaman menjadi bahasa visual. Mereka menghadirkan praktik artistik yang lahir dari kedalaman batin, memori, dan lingkungan, membentuk identitas artistik yang melekat pada setiap karya.

Diselenggarakan di Jiwa Galeri pada 3–28 April 2026, pameran ini membuka sebuah ruang di mana ekspresi dan impresi saling bersentuhan, menghadirkan percakapan halus antara batin, pengalaman, dan persepsi. Sebagian karya tampil sebagai luapan makna yang kuat, sementara yang lain meninggalkan jejak rasa yang lembut, mengundang pengunjung untuk meresapi setiap lapisan emosi dan ide. Lebih dari sekadar menampilkan bentuk visual, pameran ini mengajak setiap pengunjung menafsirkan pengalaman manusia, merenungkan memori kolektif, dan memahami dinamika dunia yang terus bergerak dari  sebuah perjalanan visual yang memadukan sensitifitas, refleksi, dan kebebasan interpretasi.

Tulisan ini berangkat untuk menelusuri hubungan halus antara impresi dan ekspresi dalam pengalaman visual, di mana impresi muncul terlebih dahulu sebagai kesan spontan yang menetap sebelum sempat dijelaskan, membentuk cara merasakan bahkan sebelum pikiran memberi arti, menorehkan jejak di lapisan awal yang tenang sebelum perlahan menemukan bentuk yang bisa diwujudkan sebagai ekspresi. Di antara keduanya terdapat ruang yang tidak sepenuhnya terlihat, tetapi menentukan. Sebuah ruang peralihan di mana impresi belum sepenuhnya menjadi bahasa, dan ekspresi belum sepenuhnya menemukan bentuknya; ruang ini bersifat cair, tempat pengalaman bekerja dalam diam, membentuk kemungkinan tanpa harus segera menetap pada makna tertentu. Ketika ekspresi hadir dalam visual, ia tidak lagi sekadar hasil akhir, melainkan membuka medan kemungkinan; visual tidak hanya memperlihatkan, tetapi juga menyimpan, di mana warna, garis, tekstur, dan ruang menjadi medium yang mengundang pengalaman, bukan menjelaskan secara langsung. Melihat karya, dengan demikian, bukan sekadar membaca sesuatu yang telah selesai, melainkan memasuki proses yang terus berlangsung, di mana impresi penikmat ikut bekerja dan berkelindan dengan ekspresi seniman, menciptakan dialog yang dinamis antara pengalaman, bentuk, dan makna yang terbuka untuk ditafsirkan.

Afnan Malay, judul: Perahu-Perahu Yang Ditambatkan (80 x 80 cm, AOC, 2026)

Dari pandangan ini, terlihat bahwa dalam karya abstrak Afnan Malay, ruang peralihan hadir melalui fragmentasi visual yang halus namun tegas. Ekspresi tidak mengejar representasi bentuk; ia terwujud melalui gestur: tumpukan warna, garis yang mengalir tanpa kepastian, dan tekstur yang merekam jejak tangan sang pencipta. Dalam Perahu-Perahu Yang Ditambatkan (80 x 80 cm, AOC, 2026), ekspresi muncul sebagai peristiwa visual yang terbuka, bebas menembus batas bentuk. Biru, hijau, merah, dan kuning bukan sekadar elemen rupa; mereka bertemu, bertabrakan, dan mengendap sebagai kemungkinan rasa, menunggu untuk ditangkap oleh pandangan yang hadir.

Dari situ, impresi mulai bekerja, berbisik dalam ruang yang tidak terlihat. Biru mengalir seperti ingatan akan air yang bergerak perlahan; hijau membentang seperti hamparan yang tenang; sementara merah dan kuning berdenyut sesekali, memecah ketenangan dengan kehadiran yang samar tapi hidup. Namun semuanya tetap samar, tidak pasti; mereka hadir sebagai suasana, sebuah getaran yang dapat dirasakan, bukan makna yang harus ditangkap atau ditafsirkan secara mutlak.

Ritme garis yang melengkung, patah, dan berulang membentuk gerak yang tidak stabil. Justru dari ketidakteraturan itulah lahir kesan gerak yang tertahan. Mata mengikuti aliran visual yang berkelok, berhenti, lalu bergerak kembali, seperti perahu yang tidak sepenuhnya diam namun juga tidak benar-benar pergi. Waktu di sini tidak bergerak maju, melainkan berputar dalam jeda yang tertahan.

Tekstur memperkuat kehadiran ekspresi sebagai sesuatu yang berjejak. Lapisan cat tebal dan kasar menyimpan intensitas tindakan, sementara impresi menghadirkan kedalaman, seolah ada waktu yang tidak dihapus tetapi dibiarkan tinggal. Komposisi yang tidak hirarkis membuka ruang pandang yang bebas; tidak ada pusat yang memaksa, hanya kemungkinan yang terus bergerak.

Dengan cara ini, karya tidak lagi dibaca sebagai representasi objek, melainkan sebagai pengalaman. Ekspresi menjadi pintu masuk, impresi menjadi ruang yang dituju. Di antara keduanya hadir keadaan: diam, menunggu, dan bertahan dalam jeda. Sebuah resonansi dengan kehidupan yang tidak selalu bergerak menuju tujuan, tetapi juga berputar dalam keseharian.

Judul Perahu-Perahu Yang Ditambatkan, menegaskan hubungan karya dengan kehidupan masyarakat pesisir. Perahu yang ditambatkan bukan sekadar objek; ia menjadi simbol kesabaran, ketahanan, dan keseharian yang menunggu arus. Seperti masyarakat pesisir yang hidup berdampingan dengan laut, tidak sepenuhnya bebas, namun juga tidak sepenuhnya diam. Perahu menandai ritme waktu yang bergulir perlahan. Dalam ketenangan yang tampak, terdapat denyut kehidupan yang terus hadir, mencerminkan keterikatan manusia pada lingkungan sekaligus harapan yang tidak pernah padam.

Impresi pada Perahu-Perahu Yang Ditambatkan memberi pengalaman langsung tentang kehidupan masyarakat pesisir: kesabaran, ketahanan, dan ritme keseharian yang menunggu arus. Penikmat merasakan suasana ketenangan sekaligus denyut kehidupan yang terus hadir, membentuk pengalaman emosional yang mendasari pemahaman visual. Dengan begitu, visual tidak hanya dilihat, tetapi juga dirasakan, sementara impresi yang dibawa judul menguatkan resonansi pengalaman personal penikmat.

Kaji Habeb judul:Ziarah (60x70, AOC, 2026)

Berbeda dengan itu, dalam karya Kaji Habeb, Ziarah (60x70, AOC, 2026). Ekspresi diwujudkan melalui simbolisme dan ritme visual. Repetisi garis, warna, dan bentuk membentuk pola yang menyerupai pengulangan ritual religius seperti doa, wirid, atau puasa. Ekspresi visual ini bukan representasi literal, tetapi medium untuk menghadirkan pengalaman batin melalui tanda-tanda simbolik. Pengulangan ini bukan sekadar mekanisme visual; ia mencerminkan pengalaman manusia dalam ritual: konsistensi tindakan yang menuntun pada refleksi batin dan pemurnian diri. Simbol di sini tidak menjelaskan, melainkan memicu kesadaran; ia bekerja perlahan, mengundang pengalaman personal yang bersifat internal dan spiritual.

Figur berwarna hijau menjadi pusat pengalaman batin dalam karya ini. Ia hadir bukan sebagai tubuh yang bergerak dalam ruang fisik, melainkan sebagai penanda perjalanan internal. Dalam konteks ritual masyarakat religius, hijau dapat dibaca sebagai simbol kehidupan, kesuburan, dan harapan yang terus tumbuh sejalan dengan proses spiritual yang dijalani secara berulang dan reflektif. Warna hijau menjadi medan pengalaman yang memuat pertumbuhan, kegelisahan, dan pencarian, seperti perjalanan doa yang tak pernah berhenti mendekat pada yang transenden.

Garis-garis yang melintas dan berulang di atas figur menghadirkan ritme yang menyerupai wirid atau dzikir. Pengulangan yang perlahan mengikis jarak antara kesadaran dan ketidaksadaran. Garis-garis ini tidak lagi sekadar alat visual, tetapi menjadi jejak proses batin: doa yang tak selalu terucap, kegelisahan yang belum reda, dan upaya mendekat pada sesuatu yang tak kasatmata. Visualisasi ritme ini mengingatkan pada dinamika ritual sehari-hari, di mana pengulangan menjadi sarana untuk mencapai kesadaran yang lebih dalam.

Ruang yang cair dan saling menembus memperkuat gagasan ziarah sebagai pengalaman yang tidak linear, selaras dengan perjalanan spiritual yang bersifat personal dan reflektif. Tidak ada batas tegas antara figur dan latar, antara dalam dan luar; struktur yang menyerupai ruang atau bangunan dapat dibaca sebagai simbol tujuan akhir dalam ritual, namun tetap rapuh dan terbuka. Menandakan bahwa kesucian dan pencerahan tidak pernah benar-benar final. Elemen-elemen berulang menghadirkan kesan perjalanan yang terus berlangsung: doa yang dilepaskan, harapan yang diulang, atau bagian diri yang terus mencari jalan pulang dalam praktik religius.

Dalam karya ini, simbol tidak menjadi jawaban final, melainkan jalan untuk mengalami. Ia menjaga ruang peralihan tetap terbuka, tidak memaksa makna, tetapi memungkinkan kesadaran tumbuh secara perlahan. Seperti proses spiritual dalam kehidupan masyarakat religius, yang memadukan pengulangan, refleksi, dan pengalaman batin sebagai inti dari ritual yang selalu dipertahankan, impresi muncul sebagai pengalaman internal yang menghidupkan ekspresi visual.

Luwi Darto judul: Raja Kirik (59 x 40 cm, AOC, 2026)

Sementara itu, Luwi Darto menghadirkan pendekatan figuratif melalui Raja Kirik (59 x 40 cm, AOC, 2026). Relasi antara “raja” dan “anak anjing” menjadi pintu masuk untuk membaca struktur sosial yang tampak sederhana, namun sesungguhnya berlapis.

Figur anjing tampil stabil dan membumi, terikat pada naluri dan kedekatan dengan tanah. Ia dapat dibaca sebagai kesetiaan yang jujur, namun sekaligus menyimpan ambiguitas, karena juga bisa menjadi kroni. Subjek yang menopang dan menjaga agar kekuasaan tetap berlangsung. Dalam posisi ini, kesetiaan tidak lagi netral, melainkan menjadi bagian dari mekanisme yang lebih besar.

Di atasnya, figur manusia hadir sebagai siluet transparan tanpa identitas yang pasti. Ia menyerupai “raja”, namun rapuh, menunjukkan bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang esensial, melainkan konstruksi yang terus diulang. Pola repetitif yang melapisi tubuhnya menjadi kode tentang sistem. Tentang bagaimana kuasa dibentuk, dipelihara, dan diwariskan.

Simbol tongkat atau trisula yang berdiri sendiri menegaskan bahwa kekuasaan tidak selalu melekat pada individu, tetapi dapat hadir sebagai mekanisme yang bekerja di luar subjek. Dalam konteks ini, kroni tidak sekadar mengikuti, melainkan menjadi bagian dari perpanjangan sistem itu sendiri.

Di sinilah ekspresi terejawantah melalui figuratif yang membangun narasi sosial. Figur anjing dan siluet manusia menyampaikan hubungan kuasa, kesetiaan, dan sistem sosial. Visual menampilkan stabilitas, ambiguitas, dan pola hierarkis melalui warna, bentuk, dan simbol seperti tongkat atau trisula. Ekspresi ini terlihat jelas dari cara figur dan objek ditempatkan dalam ruang visual: komposisi membuka lapisan interpretasi tanpa memaksa makna tunggal.

Impresi yang muncul bukan sekadar tentang dominasi, tetapi juga tentang keterlibatan bahwa yang kecil tidak selalu berada di luar kekuasaan, tetapi dapat menjadi bagian yang membuatnya bertahan. Di sinilah karya membuka lapisan kritik: kekuasaan tidak hanya berdiri di atas dominasi, tetapi juga pada kesetiaan yang diorganisir.

Judul Raja Kirik menghadirkan pengalaman sosial yang berlapis: kekuasaan, mekanisme yang berjalan melalui kesetiaan, dan dinamika peran individu dalam sistem. Penikmat merasakan keterlibatan emosional dan refleksi terhadap struktur sosial melalui figuratif yang ditampilkan. Latar warna yang saling bertabrakan membentuk medan emosional yang tidak stabil, menguatkan impresi. 

Dengan demikian, impresi menghidupkan pengalaman yang sebelumnya tersimpan dalam tema, sementara ekspresi menjadi bahasa visual untuk menyampaikannya.

Ketiga pendekatan dalam karya ini menegaskan bahwa gaya ekspresi dalam seni tidak pernah tunggal. Ia hadir sebagai fragmen, simbol, atau figur, namun selalu berakar pada impresi, pengalaman yang lebih dahulu hadir dan membentuk kedalaman visual.

Hubungan antara impresi dan ekspresi bukanlah garis lurus. Ia adalah siklus yang terus bergerak, di mana impresi melahirkan ekspresi, dan ekspresi kembali membangkitkan impresi. Karya seni dalam siklus ini tidak pernah selesai. Ia selalu terbuka untuk dibaca ulang, selalu menunggu mata yang siap menangkapnya dengan sensitifitas baru.

Melihat karya adalah memasuki ruang peralihan, tempat makna tumbuh tanpa dipaksakan. Di sini yang terasa tidak harus dijelaskan, yang samar tetap dihargai, yang tidak tampak diberi ruang. Impresi dan ekspresi bertemu, bergerak bersama, membentuk pengalaman yang hidup di setiap pandangan.


Seni bukan sekadar bentuk yang terlihat. Ia adalah jejak dari yang pernah dirasakan, fragmen dari kehidupan batin. Apa yang tampak hanyalah sebagian kecil dari apa yang sesungguhnya hidup di dalamnya.

Pengalaman visual melampaui yang kasat mata. Ia menyentuh wilayah yang tidak selalu hadir dalam kesadaran, bagian dari diri yang dirasakan, diingat, dan disimpan tanpa harus sepenuhnya dijelaskan. Di situlah ia bekerja, membentuk cara manusia memahami diri dan dunia di sekitarnya.

Di antara ekspresi dan impresi terbentang lapisan lebih dalam: kesadaran dan ketidaksadaran. Keduanya tidak saling meniadakan; sebaliknya, saling menghidupi. Impresi muncul dari wilayah yang belum sepenuhnya disadari, sebagai jejak yang belum berbentuk. Ekspresi menjadi jalan bagi sebagian dari yang tersembunyi itu untuk muncul, meski tidak pernah sepenuhnya terang.


Dari pertemuan ini lahir alteritas, diri lain yang terbentuk dari interaksi antara kesadaran dan ketidaksadaran. Alteritas bukan bayangan terpisah. Ia adalah ruang perjumpaan, tempat manusia bertemu dengan dirinya, dengan sesama, dan dengan sesuatu yang melampaui dirinya.

Manusia tidak pernah berhenti menjadi satu bentuk yang tetap. Diri adalah proses yang terus berkembang, tumbuh melalui pengalaman, tindakan, dan relasi. Alteritas bukan tanda keterpecahan, melainkan kemungkinan untuk melampaui diri saat ini menuju diri yang terus terbentuk.

Relasi antara ekspresi dan impresi tidak hanya melahirkan pengalaman estetik, tetapi juga kesadaran eksistensial. Ekspresi menegaskan keberadaan. Impresi adalah cara dunia menyentuh diri. Di antara keduanya, kesadaran tumbuh, dan ketidaksadaran menjaga kedalaman yang tak pernah habis diuraikan.

Kesadaran diri tidak lahir dari ruang yang terpisah. Ia tumbuh dalam perjumpaan, keterlibatan, dan pengalaman hidup bersama. Aku bukan entitas yang berdiri sendiri, tetapi hasil dari interaksi dengan lingkungan, orang lain, nilai-nilai yang diwariskan, dan ketegangan sosial. Diri selalu berada di antara yang lain, terbentuk melalui proses saling memengaruhi. Kesadaran diri adalah pengenalan terhadap diri dan pemahaman atas posisi di tengah kehidupan yang lebih luas.

Makna manusia ditemukan dalam keterlibatan aktif. Diri tidak utuh dengan menjauh, tetapi dengan hadir dan mengambil bagian. Kesadaran bergerak menjadi sikap dan tindakan, bukan hanya refleksi.

Kemanusiaan menemukan bentuknya di sini. Ia tumbuh dari pengalaman empati, konflik, kesetiaan, dan ketidakadilan. Impresi perlahan menjadi cara bersikap, cara melihat, dan cara berada di dunia.

Seni menjadi ruang yang memungkinkan proses ini berlangsung terbuka. Ia mempertemukan pengalaman personal dan kolektif, memungkinkan diri terlihat dalam yang lain dan yang lain terlihat dalam diri.

Melalui pengalaman visual, kesadaran berkembang menjadi keterhubungan. Di antara ekspresi dan impresi, kesadaran bukanlah sesuatu yang selesai. Ia adalah perjalanan yang bergerak di antara yang tampak dan tersembunyi, di antara diri dan yang lain, antara yang manusiawi dan yang melampaui.

Ketiga pelukis menjadi cermin. Afnan Malay membuka ruang emosi dan interpretasi bebas. Kaji Habeb menyingkap makna tersembunyi melalui simbol. Luwi menghadirkan figur yang mengingatkan bahwa kehidupan sederhana pun sarat hikmah. Bersama, mereka menunjukkan bahwa eksistensi yang utuh adalah yang peka, sabar, dan selaras dengan alur alam dan manusia di sekitarnya.

Seni bukan sekadar bentuk. Ia adalah jejak dari sesuatu yang pernah dirasakan. Dalam jejak itu, yang tampak hanyalah sebagian kecil dari kehidupan batin. Ekspresi dan impresi bertemu, bergerak, dan membuka kesadaran yang terus berkembang, mengingatkan bahwa menjadi manusia adalah proses yang tak pernah berhenti dalam berempati.

2026 - EdoPop



Pameran berlangsung hingga 26 April 2026, dan dapat dikunjungi setiap hari pukul 11.00–18.00 WIB.


Klik di bawah untuk Unduh e-Catalog : 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMORI DAN WARNA Khas Gabrielle

Tiang Senja : Estetika Kebebasan, Refleksi Subjektif, dan Dialektika Urban

Catatan Apresiasi: Ekspresi dan Impresi pada Rupa 3 Rupa