Menghidupkan Budaya Gambar, Go Art Gelar Pameran “Utthāna” di Yogyakarta
YOGYAKARTA — Pameran seni gambar dalam rangka perayaan Bulan Indonesia Menggambar digelar di Kagungan Dalem Museum Wahana Rata, Jalan Rotowijayan, Kadipaten, Kemantren Keraton, Kota Yogyakarta.
Pameran yang diinisiasi komunitas Go Art ini menghadirkan ratusan karya gambar dari 53 perupa. Beragam karya yang dipamerkan merefleksikan kehidupan sehari-hari, realitas sosial, hingga dinamika budaya masyarakat.
Pembukaan pameran berlangsung pada Sabtu, 23 Mei 2026 pukul 16.00 WIB dan dihadiri para perupa, komunitas gambar, pegiat seni, serta masyarakat umum. Acara dibuka langsung oleh Dr. Ir. Ahmad Syauqi Soepratno, MM, anggota DPD RI.
Pada pamerannya kali ini, Komunitas Go Art Yogyakarta menawarkan tajuk “Utthāna” yang berarti bangkit. Dalam konteks menggambar, utthāna bukan sekadar aktivitas menciptakan rupa, melainkan sebuah proses membangunkan ingatan, rasa, dan kesadaran manusia terhadap dirinya sendiri maupun dunia di sekitarnya.
Melalui pameran ini, gambar dipahami tidak hanya sebagai hasil visual, tetapi juga sebagai ruang pengalaman batin yang lahir dari perjumpaan antara tubuh, pikiran, dan jiwa. Garis-garis yang hadir di atas bidang menjadi jejak kehidupan: menyimpan kegelisahan, harapan, ingatan, hingga pencarian makna manusia dalam menjalani hidupnya.
“Utthāna” menghadirkan menggambar sebagai metode menuju kesadaran. Sebuah ajakan untuk kembali melihat diri, membaca fenomena sosial, serta merasakan kembali denyut kemanusiaan yang perlahan mulai menjauh dari kehidupan sehari-hari. Dalam pameran ini, menggambar bukan hanya tentang menciptakan bentuk, melainkan juga membangunkan kembali empati sosial dan kesadaran batin yang lama terdiam.
Dalam pameran tersebut, para anggota komunitas Go Art menampilkan beragam pendekatan visual yang berangkat dari pengalaman keseharian. Karya-karya yang dipamerkan menghadirkan pembacaan mengenai heritage kota, persoalan sosial-kemanusiaan, dinamika kehidupan masyarakat, hingga pengalaman personal para perupa.
Melalui berbagai sudut pandang itu, pameran menjadi ruang pertemuan antara ingatan, realitas, dan ekspresi visual yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari.
Ketua komunitas Go Art, Wasis Subroto, menyampaikan bahwa pameran semacam ini rutin diselenggarakan setiap bulan Mei sejak Bulan Indonesia Menggambar pertama kali dideklarasikan pada tahun 2022 oleh sekitar 250 komunitas gambar dari seluruh Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.
Menurutnya, hingga saat ini semangat tersebut terus dijaga dan dihidupkan bersama oleh para anggota komunitas dan pegiat gambar di berbagai daerah.
Menurut Wasis Subroto, Bulan Indonesia Menggambar penting untuk terus dirayakan sebagai ruang yang mendorong para anggota komunitas agar tetap produktif dalam berkarya. Ia menegaskan bahwa praktik menggambar tidak hanya dipahami sebagai aktivitas artistik semata, tetapi juga menjadi bagian dari gerakan kebudayaan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Melalui kegiatan seperti ini, menggambar bisa menjadi ruang berbagi pengalaman, memperkuat kebersamaan komunitas, sekaligus menumbuhkan kesadaran budaya di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar, Edo Pop, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pameran tersebut merupakan bagian dari semangat kolektif ratusan komunitas yang tergabung dalam Perkumpulan Indonesia Raya Menggambar di berbagai daerah Indonesia.
Ia menjelaskan, Bulan Indonesia Menggambar yang berlangsung setiap tanggal 2 hingga 31 Mei lahir dari semangat kebersamaan untuk terus menghidupkan budaya menggambar di tengah masyarakat sejak dideklarasikan pada tahun 2022.
Menurutnya, tema tahun ini, “Kebangkitan Gambar, Menggambar Kebangkitan”, mengajak masyarakat untuk kembali melihat gambar sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai medium berekspresi maupun cara memahami lingkungan sosial dan kebudayaan.
“Setiap komunitas memiliki cara penafsiran yang berbeda terhadap tema tersebut. Dari situlah lahir beragam karya dan pameran yang mencerminkan kekayaan pengalaman, sudut pandang, serta latar belakang komunitas di berbagai daerah Indonesia,” ujar Edo Pop.
Ia juga menambahkan bahwa momentum Bulan Indonesia Menggambar menjadi ruang penting bagi tumbuhnya semangat kolektif, di mana komunitas, lokalitas, dan masyarakat dapat bertemu secara terbuka dan egaliter.
“Dalam ruang itu siapa pun memiliki kesempatan untuk berpartisipasi, berekspresi, dan saling belajar. Menggambar tumbuh dari kehidupan sehari-hari dan kembali menjadi milik bersama di tengah masyarakat,” tambahnya.
Lebih lanjut, Edo Pop berharap kegiatan tersebut dapat menjadi ruang bersama untuk belajar, berbagi, dan saling menginspirasi, sekaligus menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem seni yang terus hidup dan berkembang sebagai budaya gambar di masyarakat Indonesia.
Sedangkan kurator pameran, Dr. Drs. Hajar Pamadhi, M.A. (Hons) menilai bahwa menggambar adalah seni paling purba sekaligus paling intim. Ia mendahului kata-kata, bahkan sebelum manusia menulis sejarahnya.
Dalam drawing, garis bukan sekadar bentuk, melainkan rekaman perhatian. Setiap goresan adalah upaya memahami, sementara setiap arsiran merupakan bentuk penghormatan terhadap kehidupan dan ruang yang dihadirinya.
Menurutnya, pameran ini bukan sekadar peristiwa seni yang memamerkan hasil drawing, tetapi juga menghidupkan kembali praktik menggambar sebagai bentuk penghayatan terhadap ruang budaya dan pengalaman manusia.
Di era digital yang serba instan, ketika citra dapat dihasilkan dalam hitungan detik dan dikonsumsi hanya melalui sekali sapuan layar, tindakan menggambar tangan justru menjadi bentuk perlawanan yang sunyi.
Menggambar meminta jeda, kesabaran, dan kehadiran sepenuhnya.
Karena itu, UTTHĀNA bukan hanya dimaknai sebagai “kebangkitan menggambar”, melainkan juga kebangkitan perhatian. Kebangkitan cara manusia memandang ruang dengan lebih sabar dan penuh kesadaran.
Kebangkitan hubungan manusia dengan warisan budaya yang kerap dilalui tanpa disadari. Serta kebangkitan kesadaran bahwa garis-garis sederhana dapat menyimpan kedalaman makna yang begitu luas.
Di sisi lain, Dr. Ir. Ahmad Syauqi Soepratno, MM menyambut baik berbagai kegiatan seni gambar yang tumbuh di tengah masyarakat sebagai bagian dari upaya penguatan kebudayaan Indonesia. Ia menilai kehadiran Bulan Indonesia Menggambar menjadi momentum penting bagi anak-anak dan generasi muda untuk mengembangkan potensi kreativitas sejak dini.
Ia juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi generasi muda saat ini yang dinilai lebih banyak tumbuh sebagai generasi konsumtif dibanding produktif akibat pengaruh penggunaan gawai dan media digital yang semakin dominan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kegiatan seni seperti menggambar dinilai penting sebagai ruang pembentukan imajinasi, kreativitas, serta kesadaran budaya.
Menurutnya, melalui aktivitas menggambar, generasi muda dapat belajar mengekspresikan gagasan, membangun daya cipta, sekaligus lebih peka terhadap lingkungan sosial dan kebudayaan di sekitarnya.
Mengusung tajuk pameran “Utthāna” sebagai tafsir dari tema besar nasional “Kebangkitan Gambar, Menggambar Kebangkitan”, pameran ini diharapkan menjadi ruang bersama untuk meneguhkan kembali praktik menggambar sebagai budaya visual di tengah masyarakat Yogyakarta khususnya.
Pameran berlangsung dari tanggal 23–30 Mei 2026 dan dibuka untuk umum setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB.
▪️Yogyakarta, 28 Mei 2026 Tiang Senja
Komentar
Posting Komentar