Ruang yang Berpindah Catatan Reflektif: Membaca Ruang Diri


Ruang yang Berpindah
Catatan Reflektif: Membaca Ruang Diri

Oleh Edo Pop

Dulu saya menganggap gagasan bahwa manusia sesungguhnya hidup melalui perjumpaan hanyalah sebuah renungan filsafat yang indah. Bertahun-tahun kemudian, saya mulai merasakan kebenarannya. Sebab setiap perjumpaan tidak sekadar menghadirkan orang lain ke hadapan kita, tetapi juga perlahan mengubah cara kita memandang diri sendiri dan dunia yang kita huni. Barangkali karena itulah saya juga mulai memahami bahwa sebuah studio bukan pertama-tama soal bangunan, melainkan tentang kehidupan yang tumbuh di dalamnya.
Saya tidak pernah benar-benar percaya bahwa sebuah studio adalah bangunan. Selama bertahun-tahun saya berkarya di rumah bersama Tiang Senja dan Arus Siang. Orang-orang mengenalnya sebagai Setara Art Studio, tetapi bagi kami studio itu tidak pernah dibatasi oleh dinding, meja kerja, atau rak tempat menyimpan cat dan kanvas. Studio tumbuh dari kebiasaan hidup bersama. Ia hadir dalam percakapan yang kadang berlangsung sambil minum kopi, dalam perdebatan kecil tentang komposisi warna, dalam keheningan ketika masing-masing tenggelam di depan bidang kosong, bahkan dalam pekerjaan-pekerjaan rumah yang sama sekali tidak berhubungan dengan seni.
Kehidupan dan proses berkarya berjalan begitu dekat hingga sering kali saya sendiri tidak lagi dapat membedakan kapan saya sedang hidup dan kapan saya sedang berkesenian.

Mungkin karena itulah, ketika kurator Achmad Fikhi mengundang kami untuk mengikuti program berpameran sekaligus berkarya bersama para peserta lain di Rumah DAS selama beberapa hari menjelang pembukaan pameran pada Sabtu, 4 Juli 2026, saya tidak merasa sedang mempersiapkan sebuah pameran. Pameran dibuka pukul 15.00 WIB oleh Indra Esti Nurjadin di Rumah DAS, Jl. Matematika No. 28B, Tiyosan, Condongcatur, Kec. Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan berlangsung hingga 25 Juli 2026.

Sore perlahan turun ketika halaman Rumah DAS mulai dipenuhi para tamu undangan, seniman, akademisi, mahasiswa, dan pecinta seni. Percakapan hangat mengalir di berbagai sudut, menghadirkan suasana akrab yang mempertemukan kembali sahabat lama sekaligus membuka ruang bagi perkenalan-perkenalan baru. Antusiasme terasa sejak awal; semua menantikan dibukanya ruang pamer yang sebelumnya merupakan ruang kerja para perupa.
 

Sembari menunggu prosesi pembukaan, alunan instrumen piano mengisi suasana. Lagu- senandung nada dan melodi bertema cinta, kehidupan, dan kritik sosial mengalun lembut, menciptakan atmosfer yang hangat sekaligus reflektif. Musik menjadi pengiring yang menyatukan beragam percakapan, menghadirkan jeda-jeda emosional di tengah riuhnya perjumpaan.
Dalam sambutannya, Indri Hesti Nurjadin menyampaikan apresiasi kepada seluruh perupa, panitia, dan para pengunjung yang telah bersama-sama menghadirkan pameran ini. Ia berharap Rumah DAS terus berkembang sebagai ruang yang terbuka bagi proses belajar, berdialog, dan bertumbuh melalui seni. Menurutnya, setiap karya yang dipamerkan merupakan bagian dari upaya merawat semangat berkesenian serta memperkuat ekosistem seni yang hidup melalui kolaborasi dan perjumpaan.

Setelah prosesi pembukaan selesai, para pengunjung dipersilakan memasuki ruang pamer. Memasuki lantai dasar, mereka tidak hanya berhadapan dengan karya-karya yang belum selesai telah tertata, tetapi juga dengan suasana studio yang masih terasa begitu dekat. Jejak proses kreatif belum sepenuhnya hilang. Aroma cat masih samar tercium di udara, beberapa peralatan kerja belum seluruhnya dirapikan, sementara sudut-sudut ruang masih menyisakan bekas aktivitas para perupa. Alih-alih mengurangi pengalaman estetik, situasi tersebut justru menghadirkan kesan yang jujur: seolah proses penciptaan belum benar-benar berakhir. Pengunjung diajak menyaksikan seni bukan hanya sebagai hasil akhir, melainkan juga sebagai proses yang masih berdenyut di dalam ruang.

Dari lantai dasar, langkah para pengunjung berlanjut menuju lantai dua, tempat karya-karya para peserta dipresentasikan. Suasana berubah menjadi lebih tenang, memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mengamati karya secara lebih saksama. Mereka berjalan perlahan dari satu karya ke karya lainnya, berhenti pada detail-detail tertentu, saling bertukar pandangan, dan membangun percakapan mengenai beragam gagasan yang dihadirkan. Perbedaan medium, tema, dan bahasa visual memperlihatkan kekayaan cara pandang setiap perupa, sementara keseluruhan ruang menjadi tempat bertemunya karya, pengalaman, dan penafsiran dalam satu perjumpaan yang hidup. Dari ruang inilah tema Tumbuh—Menjadi tidak hanya terbaca sebagai judul pameran, tetapi hadir sebagai pengalaman yang dialami bersama oleh para perupa dan para pengunjung.

Di balik keramaian pembukaan itu, ingatan saya justru kembali pada hari-hari sebelum pameran dimulai. Beberapa kali saya datang ke Rumah DAS ketika ruang ini masih dipenuhi aktivitas para perupa. Yang saya rasakan justru perpindahan sebuah ruang. Untuk sementara, studio kami seolah meninggalkan rumah dan berdiam di Rumah DAS. Kami membawa kanvas, cat, berbagai peralatan kerja, serta karya-karya yang akan dipamerkan. Namun, belakangan saya menyadari bahwa yang sesungguhnya ikut berpindah bukan hanya perlengkapan berkesenian, melainkan juga kebiasaan, ritme, dan cara kami menjalani kehidupan sehari-hari sebagai keluarga yang berkarya.
Di Rumah DAS kami tidak datang sendirian. Di sana telah hadir Nunung WS, Dyan Anggraini, Fasmaqullah, dan Yula Setyowidi. Masing-masing membawa sejarah hidupnya sendiri, kebiasaan berkaryanya sendiri, serta bahasa visual yang tumbuh melalui perjalanan yang berbeda. Kami dipertemukan oleh sebuah program berkarya bersama yang kemudian dipresentasikan melalui sebuah pameran. Namun perlahan saya menyadari bahwa pameran hanyalah alasan. Yang sesungguhnya sedang berlangsung adalah sebuah perjumpaan.
Saya selalu percaya bahwa setiap karya seni menyimpan jejak kreator yang menciptakannya. Selama ini saya lebih banyak membaca jejak itu melalui karya. Saya mengamati warna, garis, bidang, tekstur, dan komposisi, lalu berusaha memahami dunia yang tersembunyi di baliknya.

Pengalaman di Rumah DAS mengubah cara saya menafsir. Saya mulai menyadari bahwa sebelum menjadi warna, garis, atau bentuk, sebuah karya terlebih dahulu lahir dari cara seseorang menjalani hidupnya. Hari-hari berkarya bersama membuat saya perlahan membaca hal-hal yang tidak pernah hadir di ruang pamer. Saya mulai memperhatikan kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin luput dari perhatian orang lain: cara seseorang memegang kuas, cara menggores, cara ia menatap kanvas yang masih kosong, cara ia menghentikan pekerjaannya hanya untuk memandangi satu bidang selama beberapa menit tanpa menyentuh apa pun. Saya mendengarkan cerita-cerita tentang masa kecil, tentang pengalaman hidup, tentang kegagalan, tentang keyakinan yang membentuk cara mereka berkarya. Bahkan saya belajar membaca cara mereka diam. Pada saat itulah saya merasa sedang mengenal karya mereka dari hulunya, dari tempat di mana gagasan, ingatan, dan pengalaman hidup pertama kali bertemu sebelum menjelma menjadi bahasa rupa.
Semula saya mengira semua itu tidak sepenuhnya ada hubungannya dengan karya. Lama-kelamaan saya justru merasa di sanalah karya itu bermula.
Ada percakapan yang berlangsung panjang. Ada percakapan yang hanya terdiri atas beberapa kalimat. Ada pula percakapan yang sama sekali tidak membutuhkan kata-kata. Kami bekerja berdampingan. Kadang saling memperhatikan. Kadang saling mengabaikan karena sedang larut dengan pekerjaan masing-masing. Anehnya, justru dalam keadaan seperti itu saya merasa sedang belajar lebih banyak daripada ketika mengikuti diskusi atau membaca buku-buku teori seni.

Kesadaran itu tidak datang sekaligus. Ia hadir sedikit demi sedikit, seiring hari-hari yang dilalui bersama para perupa di Rumah DAS. Saya tidak sedang mencari sebuah teori tentang ruang. Justru kata itu menemukan saya melalui berbagai perjumpaan yang tampak sederhana. Saat melihat Nunung WS berdiri lama di hadapan lukisannya, misalnya, muncul sebuah pertanyaan yang terus bergema dalam benak saya: ruang seperti apakah yang sedang ia masuki?

Di teras Rumah DAS, percakapan hampir selalu tumbuh dengan sendirinya setelah pekerjaan di studio usai. Kami duduk bersama, menyeruput kopi dan teh, atau makan malam bersama, membiarkan obrolan mengalir dari pengalaman sehari-hari hingga hal-hal yang tanpa disadari menyentuh akar penciptaan. Tidak ada forum resmi ataupun upaya merumuskan teori. Justru dalam suasana yang akrab itulah saya mulai memahami bahwa setiap perupa membawa ruang kehidupannya sendiri ke dalam percakapan. Dari kisah-kisah yang terdengar sederhana, perlahan tampak bahwa karya tidak pernah lahir dari ruang yang kosong.
Manakala berbincang dengan Dyan Anggraini mengenai tubuh, budaya, dan simbol-simbol yang muncul dalam karya-karyanya, saya kembali bertanya, ruang apakah yang sedang ia bangun? Ketika mengamati Nunung WS berdiri lama di hadapan kanvas, membiarkan warna dan bentuk menemukan iramanya sendiri, saya merasakan bahwa kesabaran pun dapat menjadi ruang penciptaan. Lalu saat mendengar Fasmaqullah berbicara dengan begitu ringan tentang masa kecil, tentang anak-anak, tentang ayam, burung, ikan, dan kupu-kupu yang kemudian hadir dalam lukisannya, saya merasa sedang melihat ruang yang sama sekali berbeda. Dan ketika mengamati Yula Setyowidi bekerja dengan ketenangan yang khas, saya kembali diyakinkan bahwa setiap pengalaman memiliki ruangnya sendiri untuk menjelma menjadi bahasa rupa.
Sejak saat itu saya berhenti bertanya mengapa karya-karya mereka berbeda.
 
Pertanyaan itu terasa tidak lagi penting. Yang lebih menarik justru bagaimana perbedaan itu tumbuh dari ruang kehidupan yang berbeda-beda. Setiap perupa menghadirkan dunianya sendiri, dengan ingatan, pengalaman, dan cara memandang yang tidak mungkin dipertukarkan. Perlahan saya memahami bahwa yang saya saksikan selama ini bukan semata-mata perbedaan gaya visual, melainkan cara masing-masing perupa menghidupi dunia dan mengubah pengalaman hidup menjadi bahasa rupa.

Agaknya karena itulah pameran ini diberi tajuk Tumbuh Menjadi. Kata "menjadi" tidak pernah menunjuk pada keadaan yang selesai. Ia selalu mengandaikan sebuah perjalanan. Begitu pula ruang. Ruang bukan sesuatu yang sudah ada lalu kita isi. Ruang tumbuh bersama pengalaman manusia. Ia berubah setiap kali kita bertemu orang lain. Ia bertambah luas setiap kali kita bersedia mendengarkan pengalaman yang bukan milik kita sendiri.

Rumah DAS kemudian menjadi lebih dari sekadar tempat kami bekerja. Ia berubah menjadi laboratorium pengalaman. Setiap hari saya merasa sedang mengumpulkan serpihan-serpihan kecil yang kelak membentuk cara beda dalam memahami seni. Saya tidak sedang mencari jawaban. Saya hanya berusaha menjaga agar pertanyaan-pertanyaan itu tetap hidup. Dan mungkin memang di situlah seni selalu menemukan awalnya.

Pertanyaan kemudian muncul dalam diri, mengapa perhatian begitu banyak tertuju pada ruang? Padahal tidak seorang pun di antara kami sedang membicarakan ruang sebagai teori seni. Kami tidak sedang mendiskusikan perspektif, komposisi, ataupun sejarah seni rupa. Percakapan justru bergerak ke arah yang sangat sederhana. Tentang pengalaman keseharian kehidupan kampung halaman, keluarga, guru-guru yang pernah memberi pengaruh, bintang peliharaan, anak-anak, pohon, sungai, hujan, serta perjalanan hidup yang tampaknya tidak berhubungan dengan lukisan. Namun semakin lama mendengarkan, semakin terasa bahwa semua kisah itu sesungguhnya sedang membangun ruang tempat karya-karya mereka lahir.

Sejak saat itu, lebih banyak mendengar daripada berbicara menjadi pilihan. Barangkali usia juga mengajarkan bahwa memahami seseorang tidak pernah dapat dilakukan dengan tergesa-gesa. Ada pengalaman yang baru dapat dipahami setelah seseorang selesai bercerita. Ada pula pengalaman yang justru hanya dapat dimengerti ketika ia memilih diam. Di Rumah DAS, kedua-duanya hadir dalam waktu yang bersamaan.

Masih teringat suatu sore ketika saya duduk cukup lama bersama Nunung WS. Percakapan kami mengalir tanpa rencana. Kami tidak sedang membicarakan teori seni, melainkan kehidupan: tentang perjalanan panjang seseorang yang memilih tetap setia pada jalan berkesenian, meskipun zaman terus berubah. Dari percakapan itulah saya mulai menyadari bahwa perjalanan seorang seniman tidak pernah hanya diukur oleh banyaknya pameran atau penghargaan yang diraih. Ada perjalanan lain yang jauh lebih sunyi dan lebih panjang, yakni perjalanan mengolah diri.

Kesadaran itu terus mengikuti saya ketika kembali memandang karya-karya Nunung WS. Saya tidak lagi berhenti pada bidang-bidang abstrak yang memenuhi kanvas, tetapi mulai bertanya: pengalaman seperti apakah yang membuat seseorang terus kembali kepada keheningan? Mengapa warna hitam berulang hadir dalam lukisan-lukisannya? Mengapa setiap bidang tampak dibiarkan tumbuh tanpa tergesa-gesa?
Saya tidak menemukan jawaban yang pasti. Namun perlahan saya memahami bahwa mungkin memang bukan jawaban yang penting, melainkan perubahan cara memandang.

Hitam tidak lagi saya baca sebagai warna, tetapi sebagai ruang. Ruang tempat pengalaman mengendap, tempat seseorang berbicara dengan dirinya sendiri sebelum berbicara kepada dunia. Dari sana ingatan saya bergerak kepada berbagai pembacaan tentang tradisi tasawuf. Bukan karena saya hendak menjelaskan karya-karya Nunung WS melalui ajaran tertentu, melainkan karena saya menemukan pengertian tentang keheningan yang terasa begitu dekat dengan pengalaman memandangi lukisan-lukisannya.

Dalam laku tasawuf, diam bukanlah ketiadaan. Diam adalah latihan untuk meredakan kebisingan batin agar manusia mampu mendengar kehidupan dengan lebih jernih. Keheningan bukanlah kekosongan, melainkan ruang tempat kesadaran perlahan menemukan kedalamannya sendiri. Saya tidak tahu apakah Nunung WS memikirkan semua itu ketika melukis. Barangkali iya, barangkali juga tidak. Namun semakin lama saya hidup bersama para perupa di Rumah DAS, semakin saya merasa bahwa memahami karya seni tidak selalu berarti menemukan maksud penciptanya. Sebuah karya justru mulai hidup ketika bertemu dengan pengalaman orang yang memandangnya.

Di situlah saya memahami bahwa yang sesungguhnya bekerja di hadapan karya bukan hanya pengetahuan, melainkan perjumpaan: perjumpaan antara pengalaman yang mengendap dalam diri saya dengan pengalaman yang telah lebih dahulu mengendap dalam diri perupanya.

Dari sanalah pengertian saya tentang ruang perlahan berubah. Mula-mula saya mengira ruang hanyalah tempat perupa hidup dan berkarya. Kemudian saya memahaminya sebagai ruang batin tempat pengalaman mengendap. Kini saya melihatnya sebagai dimensi keberadaan. Di dalam dimensi itulah manusia membangun hubungan dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam, dan dengan Yang Transenden. Pengalaman, ingatan, keyakinan, luka, harapan, maupun kasih sayang tidak sekadar tersimpan di dalam diri, melainkan membentuk ruang keberadaannya. Dari ruang itulah cara seseorang memandang kehidupan perlahan lahir.

Kesadaran itu semakin menguat ketika saya berkali-kali melihat Nunung WS berhenti cukup lama di hadapan kanvasnya. Beliau tidak segera menambahkan warna ataupun memperbaiki bentuk. Sering kali beliau hanya memandang. Mula-mula saya mengira beliau sedang menunggu inspirasi. Namun semakin lama saya mengamatinya, semakin saya merasa bahwa yang sedang berlangsung bukanlah penantian. Beliau sedang menghuni ruang keberadaannya sendiri. Pada saat itu, melukis bukan lagi tindakan menguasai kanvas, melainkan kesediaan mendengarkan pengalaman yang perlahan hendak menemukan bentuknya.

Pengalaman itu memberikan cara lain bagi saya memahami proses kreatif. Selama ini saya mengira melukis adalah tindakan menghadirkan sesuatu ke atas bidang kosong. Kini saya mulai melihat bahwa melukis juga berarti memberi ruang agar sesuatu dapat hadir. Ada saat ketika seorang perupa bekerja bukan terutama melalui sapuan kuasnya, melainkan melalui kesediaannya menunggu, menahan diri, dan tidak tergesa-gesa memenuhi kekosongan. Barangkali di situlah letak kedewasaan seorang seniman: bukan pada banyaknya karya yang dihasilkan, melainkan pada kemampuannya menjaga ruang agar pengalaman dapat menemukan bahasa visualnya sendiri.

Perjumpaan dengan Nunung WS membuat saya memahami bahwa setiap perupa sesungguhnya menghadirkan jalan yang berbeda untuk memasuki ruang keberadaannya. Tidak ada satu cara yang dapat dipakai untuk membaca seluruh proses kreatif. Kesadaran itulah yang saya bawa ketika kemudian berbincang dengan Dyan Anggraini. Jika pada Nunung WS saya menemukan keheningan sebagai ruang tempat pengalaman mengendap, maka pada Dyan saya berjumpa dengan cara lain memaknai ruang. Sebuah pengalaman yang kembali menggeser cara saya memandang seni, proses berkarya, dan diri saya sendiri.

Percakapan bersama Dyan Anggraini mengantar saya memasuki dimensi yang sama sekali berbeda. Dimensi itu tidak sunyi. Ia dipenuhi lapisan-lapisan ingatan yang saling mengendap, jejak budaya yang diwariskan tanpa selalu disadari, serta benda-benda sederhana yang diam-diam menyimpan dan meneruskan keberlangsungan sebuah peradaban. Di hadapan karya-karyanya, saya tidak lagi berhadapan dengan keheningan yang mengosongkan, melainkan dengan keberadaan yang terus bertumbuh melalui hubungan antara tubuh, ingatan, tradisi, dan kehidupan sehari-hari. Perjumpaan dengan Dyan membuat saya menyadari bahwa kebudayaan tidak selalu hadir melalui peristiwa-peristiwa besar. Ia justru hidup dalam benda-benda yang tampak biasa, dalam kebiasaan yang diwariskan, dan dalam pengalaman sehari-hari yang perlahan membentuk cara manusia memahami dirinya.

Setelah Dyan menyelesaikan drawing yang sedang dikerjakannya, saya menghampirinya. Pensil telah diletakkan di atas meja, sementara pandangannya masih sesekali kembali pada sebidang kanvas yang baru saja ia garap, seolah memastikan setiap garis telah menemukan tempat yang semestinya.

Momen itu terasa tepat untuk membuka percakapan. Saya mengawali obrolan dengan menanyakan teknik lalu gagasan yang melatarbelakangi tema karya tersebut. Dari pertanyaan sederhana itulah perbincangan kami perlahan bergerak memasuki wilayah yang lebih dalam. Kami berbicara tentang perempuan. Tentang tubuh. Tentang budaya. Tentang berbagai simbol yang terus hidup di tengah masyarakat, meskipun orang-orang yang menggunakannya sering kali tidak lagi menyadari dari mana simbol-simbol itu berasal. Tidak ada keinginan untuk segera mencapai kesimpulan. Justru dalam kelambatan itulah setiap cerita menemukan ruangnya sendiri, menghadirkan pemahaman bahwa sebuah karya tidak pernah lahir begitu saja, melainkan tumbuh dari pengalaman hidup, ingatan, dan perjumpaan dengan lingkungan yang membentuknya.

Di tengah percakapan itu Dyan mulai bercerita tentang peniti rambut.
Saya sempat terdiam.
Betapa anehnya, sebuah benda yang begitu kecil ternyata mampu membuka percakapan yang begitu panjang.
Peniti adalah benda yang nyaris tidak pernah memperoleh perhatian. Ia hidup dalam keseharian. Ia membantu menyanggul rambut, menjaga lipatan kain tetap pada tempatnya, lalu menghilang dari kesadaran karena dianggap terlalu biasa. Kita terbiasa melihatnya, tetapi hampir tidak pernah benar-benar memandangnya.

Padahal justru benda-benda seperti itulah yang sering kali menyimpan ingatan paling panjang.
Saya kemudian teringat kepada perempuan-perempuan di kampung ketika saya masih kecil.
Mereka menyisir rambut pada pagi hari, menggulungnya perlahan, lalu menyelipkan peniti dengan gerakan yang begitu alami seolah tubuh mereka telah menghafalnya sejak lama. Tidak pernah ada yang menganggap tindakan itu penting. Tidak pernah ada yang merasa sedang menjalankan sebuah tradisi. Semuanya berlangsung sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Barangkali karena terlalu dekat dengan kehidupan, kita justru gagal melihat maknanya.

Saya mulai percaya bahwa kebudayaan tidak selalu bertahan melalui bangunan-bangunan megah, naskah kuno, atau upacara-upacara besar.
Sering kali ia bertahan melalui benda-benda kecil. Melalui gerakan tangan yang diwariskan dari ibu kepada anak. Melalui cara seseorang mengikat rambut. Melalui kain yang dilipat dengan cara tertentu. Melalui alat-alat sederhana yang terus digunakan meskipun zaman telah berubah.

Peradaban sesungguhnya lebih sering disimpan oleh keseharian daripada oleh monumen. Kesadaran itu semakin kuat ketika drawing Dyan Anggaraini perlahan mendekati penyelesaiannya.
Tampak dua perempuan berdiri membelakangi kami.Tidak ada wajah yang ingin dikenalkan. Tidak ada ekspresi yang meminta dibaca. Yang tampak hanyalah rambut yang ditata dengan tenang, serta peniti yang menahan sanggul agar tetap pada tempatnya.
Saya memandang drawing itu cukup lama. Semakin lama saya melihatnya, semakin saya merasa bahwa Dyan tidak sedang menggambar dua orang perempuan. Ia sedang menggambar ingatan. Mengapa kedua perempuan itu membelakangi kami?

Pertanyaan itu terus mengikuti saya.
Mungkin karena ingatan memang jarang datang melalui wajah. Ketika seseorang mengenang masa kecilnya, yang pertama kali muncul sering kali bukanlah rupa orang-orang yang pernah ditemuinya. Yang datang justru aroma dapur, suara hujan di atap rumah, bunyi lesung, kain yang dijemur di halaman, atau benda-benda sederhana yang dahulu begitu akrab dalam kehidupan.

Ingatan bekerja melalui detail-detail kecil.
Melalui sesuatu yang tampaknya sepele.
Peniti rambut menjadi salah satunya.
Ia bukan lagi benda. Ia telah berubah menjadi penanda waktu.
Saya kemudian memahami mengapa tubuh perempuan memperoleh tempat yang begitu penting dalam karya-karya Dyan. Tubuh di sana bukanlah tubuh biologis semata. Ia bukan objek untuk dipandang. Ia adalah ruang tempat kebudayaan meninggalkan jejaknya.
Di dalam tubuh berlangsung berbagai proses pewarisan. Cara berjalan, cara duduk, cara menyanggul rambut, cara mengenakan kain, cara merawat diri, bahkan cara menundukkan kepala dalam situasi tertentu merupakan hasil dari perjalanan budaya yang sangat panjang. Sebagian diwariskan secara sadar. Sebagian lain berpindah begitu saja melalui kebiasaan yang terus diulang dari generasi ke generasi. Tubuh menjadi arsip.Bukan arsip yang disimpan di lemari. Melainkan arsip yang hidup.
Ia bergerak, bernapas, berubah, dan terus membawa masa lalu memasuki masa kini.

Barangkali karena itulah figur-figur perempuan dalam drawing Dyan tidak pernah terasa sebagai potret seseorang.
Mereka lebih menyerupai ruang tempat berbagai lapisan pengalaman saling bertemu.Ada sejarah di dalamnya.
Ada mitologi.Ada ingatan keluarga.
Ada kebiasaan masyarakat. Ada pula berbagai simbol yang terus berubah mengikuti zamannya, tetapi tidak pernah benar-benar kehilangan akarnya.

Percakapan kami kemudian bergerak kepada berbagai kisah yang hidup di tengah masyarakat. Saya menyadari bahwa mitologi tidak selalu hadir sebagai cerita besar tentang para dewa atau tokoh-tokoh legendaris. Mitologi juga hidup dalam kepercayaan-kepercayaan kecil yang diwariskan dalam keluarga. Dalam nasihat seorang nenek. Dalam larangan yang sering kali tidak lagi diketahui asal-usulnya. Dalam berbagai benda yang dipercaya memiliki makna tertentu.
Sebagian orang menganggap semua itu sekadar cerita lama.
Namun saya mulai melihatnya dengan cara yang berbeda.
Mitologi sesungguhnya adalah cara sebuah masyarakat menjaga ingatannya.
Ia membuat pengalaman masa lalu tetap hidup, meskipun bentuknya terus berubah.

Saya merasa Dyan memahami hal itu dengan sangat baik. Ia tidak menghadirkan simbol untuk menjelaskan kebudayaan. Ia justru membiarkan simbol-simbol itu tetap terbuka.
Penonton dipersilakan memasuki karya dengan membawa pengalaman hidupnya sendiri.

Tidak ada tafsir yang dipaksakan.
Tidak ada makna yang dikunci.
Yang terbuka justru kemungkinan-kemungkinan baru.
Di situlah saya merasa drawing-drawing Dyan bekerja seperti ingatan.
Ingatan tidak pernah hadir secara utuh.
Ia datang sebagai serpihan.
Kadang hanya berupa sebuah benda.
Kadang berupa sepotong warna.
Kadang berupa gerak tubuh yang tiba-tiba mengingatkan kita kepada seseorang yang telah lama pergi.
Semua serpihan itu perlahan saling mendekat, lalu membentuk makna baru setiap kali kita bersedia tinggal lebih lama di hadapannya.

Sejak perjumpaan itu saya tidak lagi melihat drawing Dyan sebagai gambar figur perempuan. Saya melihatnya sebagai ruang budaya. Ruang tempat tubuh, sejarah, simbol, dan ingatan saling merawat keberadaan satu sama lain.
Dan barangkali di situlah saya memperoleh pelajaran yang paling berharga. Kebudayaan tidak selalu bertahan melalui hal-hal yang besar.
Ia justru lebih sering bertahan melalui apa yang nyaris tidak kita sadari.
Melalui sebuah peniti yang menahan rambut agar tetap rapi. Melalui tangan yang dengan sabar mengajarkan cara menyanggul kepada anak perempuannya. Melalui benda-benda sederhana yang tidak pernah merasa dirinya penting, tetapi diam-diam menjaga agar sebuah ingatan tidak putus dari generasi ke generasi. 

Sesudah percakapan itu saya kembali memandang drawing yang telah selesai.
Tidak ada yang berubah pada gambar tersebut. Garis-garisnya tetap sama.
Figur-figurnya tetap membelakangi saya.
Namun yang berubah adalah cara saya melihatnya. Saya tidak lagi sedang memandang dua perempuan.
Saya sedang memandang sebuah kebudayaan yang memilih bertahan dengan cara yang paling sunyi: hidup di dalam keseharian manusia.

Pada malam hari, setelah masing-masing kembali ke rumah dan menjalani ritme hidupnya sendiri, saya sering duduk sendirian di teras rumah yang sunyi, membiarkan percakapan-percakapan itu hadir kembali dalam ingatan. Anehnya, saya tidak merasa sedang mengumpulkan bahan untuk menulis. Saya justru merasa sedang belajar menjadi pendengar yang lebih baik. Sebab saya mulai menyadari bahwa memahami seseorang tidak selalu dimulai dengan mencari jawaban, melainkan dengan kesediaan tinggal cukup lama di dalam apa yang ia ceritakan.

Sepertinya selama ini saya terlalu cepat memberi nama pada sesuatu.
Padahal seni sering kali meminta kita menunda kesimpulan.
Semakin lama saya berada di Rumah DAS, semakin saya merasa bahwa tugas seorang perupa bukan hanya menciptakan gambar. Ia juga menjaga agar pengalaman tetap hidup. Sebab ketika pengalaman berhenti hidup, bentuk-bentuk visual lambat laun hanya akan menjadi kebiasaan yang diulang tanpa kesadaran. Kesadaran itulah yang perlahan mengubah cara saya melihat bukan hanya karya-karya mereka, tetapi juga karya-karya saya sendiri.

Saya kemudian mulai memperhatikan Tiang Senja dan Arus Siang dengan cara yang berbeda. Selama ini kami berkarya dalam ruang yang sama. Saya menyaksikan keduanya bertumbuh sebagai anak-anak yang akrab dengan cat, kanvas, aroma terpentin, dan percakapan tentang seni. Namun di Rumah DAS, saya tidak lagi melihat mereka semata sebagai anak-anak saya. Di tengah kehadiran para perupa lain, mereka berdiri sebagai seniman yang sedang membangun ruang kreatifnya sendiri.

Perasaan itu datang begitu saja. Tidak ada peristiwa yang benar-benar besar. Hanya hal-hal kecil yang mungkin luput dari perhatian orang lain. Cara Tiang Senja memandangi lukisannya cukup lama sebelum menyentuhkan warna berikutnya. Cara Arus Siang begitu cepat mengambil keputusan, lalu beberapa saat kemudian menghapusnya kembali karena merasa belum menemukan bentuk yang tepat. Saya menyadari bahwa setiap orang ternyata memiliki ritme berpikir yang berbeda. Barangkali proses berkesenian memang tidak pernah berlangsung dengan kecepatan yang sama.

Pengalaman itu mengingatkan saya bahwa selama ini saya terlalu sering memahami pertumbuhan sebagai sesuatu yang bergerak ke depan. Padahal hidup bersama mereka membuat saya melihat bahwa bertumbuh juga berarti belajar menerima perbedaan ritme. Ada yang tumbuh melalui keraguan. Ada yang tumbuh melalui keberanian. Ada yang memerlukan waktu panjang untuk sampai pada sebuah keputusan. Ada pula yang justru menemukan dirinya melalui percobaan-percobaan yang tampaknya tidak terarah. Semua memiliki waktunya sendiri.

Tampaknya di situlah saya mulai memahami bahwa ruang dalam seni tidak pernah bersifat tunggal. Setiap perupa membangun ruangnya sendiri, tetapi ketika karya-karya itu dipertemukan dalam satu pameran, ruang-ruang tersebut mulai berdialog satu sama lain. Yang menarik, dialog itu tidak selalu berlangsung melalui kata-kata. Kadang ia hadir melalui warna yang saling menegaskan. Kadang melalui bentuk yang saling bertentangan. Kadang justru melalui keheningan yang tercipta di antara dua karya yang tampaknya tidak memiliki hubungan apa pun.

Semakin saya menjalani hari-hari di Rumah DAS, semakin saya menyadari bahwa setiap perjumpaan menghadirkan ruang pengalaman yang berbeda. Tidak ada satu percakapan pun yang mengulang percakapan sebelumnya. Masing-masing membuka cara pandang yang khas, seolah saya diajak memasuki dimensi kehidupan yang berlainan melalui pribadi-pribadi yang berbeda. Dari sanalah saya mulai memahami bahwa karya-karya yang kelak dipamerkan sesungguhnya lahir dari keragaman ruang batin yang tidak pernah seragam.

Di tengah berbagai percakapan itu, Fasmaqullah menghadirkan suasana yang berbeda. Jika Nunung WS mengajak saya memasuki ruang keheningan, dan Dyan Anggraini membuka lapisan-lapisan budaya yang bekerja di balik tubuh dan simbol, maka bersama Fasmaqullah saya justru kembali bertemu dengan sesuatu yang sangat sederhana: kegembiraan melihat dunia.

Saya menyadari bahwa kesederhanaan sering kali menipu. Kita terbiasa menganggap sesuatu yang tampak ringan sebagai sesuatu yang sederhana pula. Padahal justru di situlah letak kerumitannya. Menjaga dunia tetap terasa ringan setelah melewati berbagai pengalaman hidup barangkali jauh lebih sulit daripada menghadirkan kerumitan itu sendiri.

Kami lebih sering berbincang tentang hal-hal yang tampaknya jauh dari wacana seni mutakhir. Percakapan kami bukan mengenai teori, pasar seni, atau kecenderungan estetik yang sedang berkembang, melainkan tentang anak-anak yang ia temui setiap hari ketika mengajar. Ia bercerita bagaimana mereka memilih warna tanpa dibebani pertanyaan tentang benar atau salah. Mereka menggambar ayam berwarna biru, ikan yang melayang di langit, atau kupu-kupu yang ukurannya lebih besar daripada pohon. Tidak ada kecemasan untuk menjadi realistis. Tidak ada ketakutan dianggap keliru. Dunia mereka tumbuh dan bekerja dengan logikanya sendiri, sebuah logika yang belum dipisahkan oleh batas-batas yang kelak dibangun oleh orang dewasa.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, kapan orang dewasa mulai kehilangan kebebasan semacam itu?
Barangkali pertanyaan itu pula yang membuat saya memandang karya-karya Fasmaqullah dengan cara yang berbeda. Fauna yang memenuhi kanvasnya tidak lagi saya baca sebagai objek. Burung, ikan, ayam, kupu-kupu, atau makhluk-makhluk lain yang terus hadir dalam lukisannya perlahan berubah menjadi penanda bagi sesuatu yang lebih dalam. Mereka adalah jalan pulang menuju pengalaman yang pernah dimiliki setiap manusia, tetapi perlahan terlupakan ketika usia bertambah.

Setelah itu, teringat cerita Fasmaqullah tentang masa kecilnya di Muara Mahakam. Ia tidak menceritakannya sebagai kisah yang heroik. Ceritanya sederhana; mengikuti nenek ke ladang, melihat sungai, memasang jaring, memelihara ayam, mengejar kupu-kupu, menangkap belalang dan menanam bunga. Akan tetapi, ketika saya mendengarnya, saya justru merasa bahwa ingatan-ingatan sederhana itulah yang kemudian membentuk cara seseorang memandang dunia sepanjang hidupnya.

Lalu kemudian, saya mulai percaya bahwa masa kecil tidak pernah benar-benar berlalu.
Ia tinggal diam di dalam diri manusia, lalu muncul kembali dengan cara yang tidak pernah kita duga. Ada yang muncul melalui aroma tanah setelah hujan. Ada yang kembali ketika mendengar lagu lama. Ada pula yang hidup kembali melalui lukisan.

Berbagai karakter fauna yang terus hadir dalam karya-karya Fasmaqullah pada akhirnya tidak hanya berbicara tentang dunia anak-anak ataupun kenangan masa kecil. Fauna menjelma sebagai cara pandang terhadap kehidupan yang memelihara rasa ingin tahu, kedekatan dengan alam, dan kebebasan berimajinasi. Di tangan Fasmaqullah, penyederhanaan bentuk bukanlah upaya mengurangi kenyataan, melainkan menghadirkan kembali pengalaman dalam bentuk yang lebih esensial. Karena itu, dunia visual yang tampak ringan, jenaka, dan penuh permainan sesungguhnya merupakan ruang tempat ingatan, pengalaman hidup, dan harapan bertemu. Dalam pengertian inilah bahasa visual Fasmaqullah memperoleh kekuatannya: bukan karena menghadirkan kisah secara langsung, melainkan karena mengajak penonton memasuki dunia yang lahir dari perjumpaan antara memori, pengalaman, dan imajinasi.

Mungkin karena itu karya-karya Fasmaqullah tidak pernah terasa seperti nostalgia. Ia tidak sedang berusaha mengembalikan masa lalu. Ia justru memperlihatkan bahwa masa lalu masih terus hidup di dalam masa kini. Ingatan bukanlah sesuatu yang berada di belakang kita. Ingatan adalah ruang yang terus berjalan bersama kita.

Di titik inilah saya mulai memahami mengapa saya terus-menerus memikirkan ruang. Semakin lama saya berinteraksi bersama mereka, semakin saya merasa bahwa setiap orang sebenarnya sedang tinggal di ruang yang berbeda, meskipun kami berkumpul di rumah DAS, makan di meja yang sama, dan bekerja di ruangan yang sama. Nunung WS tinggal di ruang kontemplasi yang dibangun oleh perjalanan batin yang panjang. Dyan Anggraini hidup di ruang tempat budaya, sejarah, dan tubuh saling bertemu. Fasmaqullah tinggal di ruang yang dipenuhi ingatan masa kecil dan dunia anak yang tidak pernah ia tinggalkan.

Perjumpaan saya dengan Fasmaqulllah kembali menyadarkan bahwa setiap perupa sesungguhnya sedang membangun ruang keberadaannya melalui cara yang berbeda. Kesadaran itu saya bawa ketika kemudian berjumpa dengan Yula Setyowidi. Mungkin, Yula pun tengah menumbuhkan ruangnya sendiri melalui perjalanan hidup yang perlahan membentuk kepekaan estetiknya.

Di Rumah DAS, saya tidak merasa sedang mendengarkan penjelasan tentang karya seni. Obrolan kami justru mengalir sebagai cerita tentang kehidupan. Dari sanalah saya mulai memahami bahwa apa yang kemudian hadir di atas kanvas sesungguhnya bertolak dari pengalaman yang dijalani, bukan dari gagasan yang sengaja dicari.

Berbeda dengan Fasmaqulllah, yang menjadikan pengalaman sebagai asal-usul lahirnya bahasa visual yang bertumpu pada ingatan, perjumpaan, dan kehidupan sehari-hari, Yula menemukan bentuk estetiknya melalui kedekatannya yang intim dengan lanskap pesisir Banyuwangi. Dalam salah satu percakapan kami, ia bercerita bahwa laut bukan sekadar latar geografis, melainkan ruang kehidupan yang perlahan membentuk kepekaan estetiknya.

Dari ruang itulah lahir figur-figur bermata ikan yang berulang hadir dalam karya-karyanya. Bukan semata sebagai pilihan bentuk visual, melainkan sebagai jejak kebudayaan pesisir sekaligus penanda hubungan manusia dengan alam yang sejak lama membentuk pengalaman hidup dan indentitanya.

Percakapan dengan Yula semakin menegaskan bahwa pengalaman tidak pernah hadir sebagai sesuatu yang netral. Ia selalu dibentuk oleh ruang tempat seseorang bertumbuh, oleh kebiasaan yang dijalani, oleh ritme kehidupan sehari-hari, serta oleh hubungan yang terus dipelihara dengan lingkungan sekitarnya. Karena itu, laut dalam karya-karyanya tidak dapat dibaca hanya sebagai objek representasi. Laut telah menjadi dimensi pengalaman yang mengendap dalam ingatan dan membentuk cara ia merasakan, memaknai, sekaligus menciptakan. Figur-figur bermata ikan yang terus hadir bukan sekadar motif visual, melainkan jejak suatu kultur yang hidup di dalam dirinya. Melalui Yula, saya kembali menyadari bahwa bahasa visual seorang perupa tidak pernah lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari perjumpaan yang panjang dengan dunia yang dihidupi, hingga pengalaman perlahan menjelma menjadi bentuk, simbol, dan imaji yang membawa ingatan tentang sebuah cara hidup.

Kendati demikian, menurut cerita dari Yula, figur-figur tersebut tidak dimaksudkan sebagai representasi identitas gender tertentu. Sebaliknya, ia hadir sebagai metafora tentang manusia, tentang relasinya dengan Tuhan, sesama, dan kehidupan sosial, sehingga pengalaman yang sangat personal perlahan menjelma menjadi pengalaman yang lebih universal.

Saya juga baru memahami mengapa hampir semua figur dalam lukisannya tidak memiliki mulut. Bagi Yula, tidak semua hal harus diucapkan. Kata-kata dapat melukai, bahkan menghadirkan mudarat. Karena itu, ketiadaan mulut menjadi simbol pengendalian diri, keheningan, sekaligus ruang kontemplasi, tempat manusia belajar mendengarkan sebelum berbicara.

Menariknya, keheningan itu tidak membuat karya-karyanya menjadi sunyi. Justru di sanalah warna, garis, dan bidang mengambil alih peran bahasa. Ketika kata-kata tidak lagi mampu menampung pengalaman batin, bahasa rupa menjadi cara lain untuk menyampaikan apa yang sulit diucapkan.

Dalam percakapan kami, Yula juga bercerita tentang masa-masa ketika tinggal di Yogyakarta. Saya menangkap bahwa pengalaman hidup di kota itu ikut mengubah cara pandangnya. Bergaul dengan orang-orang dari berbagai latar budaya membuatnya semakin sering mempertanyakan posisi masyarakat pesisir yang kerap dipandang sebagai the other di tengah kuatnya narasi masyarakat urban-pop culture.

Dari pengalaman-pengalaman itulah saya melihat bahwa karya-karyanya tidak hanya berbicara tentang pesisir, tetapi juga tentang bagaimana identitas manusia terus dibentuk oleh setiap perjumpaan.
Karena itu, figur-figur dalam karya Yula tidak pernah terasa selesai. Mereka seolah terus berada dalam proses menjadi, sebagaimana manusia yang selalu berubah oleh pengalaman hidup, kehilangan, hubungan dengan sesama, dan perjalanan spiritualnya.

Menjelang akhir percakapan di Rumah Das, saya semakin memahami bahwa bagi Yula, abstraksi dan realisme bukanlah dua dunia yang saling berseberangan. Dari cara ia bercerita tentang proses berkaryanya, saya menangkap kesan bahwa setiap bentuk abstrak sesungguhnya berangkat dari kenyataan, sebagaimana kenyataan sendiri tersusun dari serpihan-serpihan pengalaman yang tak pernah benar-benar utuh.

Bisa jadi karena itulah karya-karyanya tidak pernah berusaha menjelaskan segala sesuatu secara tuntas. Selalu ada ruang yang sengaja dibiarkan terbuka agar penonton dapat masuk dengan pengalaman hidupnya sendiri. Di situlah saya melihat seni bukan sekadar menghadirkan bentuk-bentuk visual, melainkan menjadi ruang perjumpaan, ruang kontemplasi, sekaligus ruang tempat manusia terus belajar memahami dirinya dan dunia di sekitarnya.

Kiranya di situlah saya mulai memahami bahwa setiap karya bukan hanya menghadirkan ruang yang dibangun oleh senimannya, melainkan juga membuka ruang bagi pembacanya. Selama beberapa hari menyusuri karya-karya para perupa, saya merasa bukan hanya sedang membaca pengalaman mereka, tetapi perlahan sedang membaca pengalaman saya sendiri. Setiap ruang yang mereka hadirkan memantulkan pertanyaan yang sama kepada saya: ruang apakah yang sesungguhnya sedang saya bangun melalui kehidupan yang saya jalani?

Di tengah berbagai percakapan itu, saya juga kembali memperhatikan Arus Siang, adik Tiang Senja. Melalui karya-karya berjudul Penuh Harapan, Sang Pendengar, Membawa Harapan, Pengembara dari Barat, dan Hadiah dari Dasar Laut, saya melihat kecenderungannya membangun dunia melalui figur-figur yang terasa puitis sekaligus imajinatif. Figur-figur itu tidak hadir sebagai potret seseorang, melainkan sebagai pembawa cerita, seolah setiap tokoh sedang menempuh perjalanan batinnya sendiri. Harapan, pengembaraan, kesediaan mendengar, hingga penemuan yang tersembunyi di dasar laut perlahan menjelma menjadi metafora tentang manusia yang terus mencari makna di sepanjang hidupnya.

Dari cara ia membangun bahasa visualnya, saya merasakan bahwa Arus Siang sedang menyusun sebuah ruang yang dipenuhi kemungkinan-kemungkinan, ruang tempat imajinasi, pengalaman, dan harapan saling bertemu tanpa harus dibatasi oleh kenyataan yang harfiah.

Di hadapan karya-karya Arus Siang, ingatan saya kembali kepada tajuk pameran ini, Tumbuh Menjadi. Kata menjadi tidak pernah menunjuk pada keadaan yang selesai. Ia selalu mengandaikan sebuah perjalanan yang terus berlangsung. Barangkali itulah yang saya rasakan ketika memandang figur-figur dalam karya-karyanya. Mereka tidak tampil sebagai sosok yang telah mencapai tujuan, melainkan sebagai pribadi-pribadi yang sedang bergerak, mendengar, mengembara, membawa harapan, dan menemukan. Setiap figur seolah sedang menempuh jalannya sendiri menuju sesuatu yang belum sepenuhnya diketahui. 

Dari sanalah saya memahami bahwa proses berkesenian tidak berbeda dengan kehidupan. Keduanya bukan tentang mencapai kesempurnaan, melainkan tentang kesediaan untuk terus bertumbuh, berubah, dan menjadi melalui setiap pengalaman yang dijalani.
Kesadaran itu kemudian membawa saya kembali kepada Tiang Senja. Meskipun tumbuh di rumah, studio, dan lingkungan yang sama dengan Arus Siang, ia justru membangun ruang kreatif yang berbeda. Perhatiannya perlahan mengarah kepada lingkungan hidup, namun bukan sebagai tema yang hendak dikhotbahkan atau sekadar ajakan menjaga alam. Dalam karya-karya abstraknya, lingkungan menjelma menjadi pengalaman yang hidup. Warna, bidang, tekstur, dan ritme tidak lagi berusaha menggambarkan alam sebagaimana tampak oleh mata, melainkan menghadirkan hubungan yang lebih dalam antara manusia dan semesta.

Perlahan saya memahami bahwa perhatian Tiang Senja terhadap lingkungan tidak berhenti pada keinginan menghadirkan alam sebagai tema. Ia justru berangkat dari unsur-unsur visual yang ditemukannya di alam. Tekstur, warna, ritme, dan komposisi. Yang kemudian dihayati kembali sebagai pengalaman batin. Alam tidak hadir sebagai objek yang ditiru, melainkan sebagai pengalaman yang bergerak dari dunia luar menuju kedalaman diri. Dari proses peramuan yang berlangsung perlahan itulah lahir bahasa abstraknya.

Ruang kemudian tidak lagi sekadar dipahami sebagai persoalan formal dalam penyusunan unsur-unsur rupa, melainkan berkembang menjadi medan pengalaman estetik tempat ingatan, kepekaan, dan kesadaran ekologis saling bertemu. Barangkali karena itulah abstraksi dalam karya-karyanya tidak mengajak penonton mengenali bentuk-bentuk alam, melainkan menghayati kembali hubungan yang lebih dalam antara manusia dan semesta. Di situlah ruang perlahan berubah menjadi dimensi pencarian, tempat pengalaman terus bertumbuh dan makna senantiasa terbuka untuk ditemukan kembali.

Dari kedua bersaudara itu saya kembali belajar bahwa bertumbuh tidak pernah berarti menempuh jalan yang sama. Meskipun dibesarkan dalam rumah, studio, dan pengalaman hidup yang serupa, masing-masing membangun ruang keberadaannya sendiri. Arus Siang menempuh jalannya melalui figur-figur yang membawa harapan dan kisah-kisah yang membuka kemungkinan baru, sementara Tiang Senja memilih abstraksi sebagai cara merasakan kembali hubungan manusia dengan alam. Perbedaan itu justru menegaskan apa yang sejak awal saya temukan di Rumah DAS: setiap perjumpaan melahirkan ruang yang berbeda, dan dari ruang-ruang yang berbeda itulah proses tumbuh menjadi memperoleh maknanya yang paling mendalam.

Lalu saya bertanya kepada diri sendiri, saya sendiri tinggal di ruang yang mana?
Pertanyaan itu tidak mudah dijawab.
Setelah menyusuri ruang-ruang yang dihidupi Nunung WS, Dyan Anggraini, Fasmaqullah, Yula Setyowidi, juga menyaksikan Tiang Senja dan Arus Siang membangun bahasanya masing-masing, saya menyadari bahwa yang sesungguhnya berubah bukan hanya cara saya memandang karya-karya mereka, melainkan juga cara saya memahami diri sendiri sebagai seorang perupa.

Percakapan-percakapan di Rumah DAS perlahan menggeser keyakinan saya bahwa karya lahir semata dari pencarian bentuk atau gagasan. Justru di sanalah saya belajar bahwa sebelum menjelma menjadi garis, bidang, dan warna, sebuah karya terlebih dahulu tumbuh di dalam ruang yang nyaris tak terlihat. Ruang tempat pengalaman, ingatan, keheningan, dan perjumpaan saling mengendap. Dari ruang itulah bentuk perlahan menemukan dirinya. Sejak saat itu, berkarya tidak lagi saya rasakan sebagai usaha menciptakan citra-citra baru, melainkan sebagai laku untuk terus merawat kepekaan terhadap kehidupan. Sebab setiap perjumpaan selalu meninggalkan jejak, dan setiap jejak, pada waktunya, dapat menjelma menjadi bahasa yang tidak hanya berbicara tentang dunia, tetapi juga mengubah cara seseorang hadir di dalamnya.

Selama beberapa hari saya lebih banyak membaca ruang orang lain daripada membaca ruang saya sendiri. Akan tetapi, justru karena itulah saya perlahan mulai melihat kembali perjalanan saya bersama Tiang Senja dan Arus Siang.
Saya melihat bahwa selama ini kami tidak sekadar berbagi rumah. Kami sedang membangun sebuah ruang belajar yang terus berubah. Ada hari-hari ketika saya menjadi orang tua. Ada hari-hari ketika saya menjadi teman berdiskusi. Ada pula saat-saat ketika saya justru belajar dari mereka. Saya mulai menyadari bahwa hubungan kami tidak pernah benar-benar tetap. Ia terus bergerak sebagaimana karya-karya yang kami hasilkan.

Saya teringat ketika melihat Tiang Senja berdiskusi dengan Fasmaqullah mengenai warna. Saya tidak terlalu memperhatikan isi pembicaraannya. Yang menarik perhatian saya justru kenyataan bahwa saya tidak merasa perlu ikut campur. Barangkali untuk pertama kalinya saya benar-benar melihat anak saya sedang belajar dari perupa lain, bukan dari saya.
Perasaan itu aneh.

Sebagai ayah, ada kebanggaan yang sulit dijelaskan. Namun pada saat yang sama saya juga merasa sedang melepaskan sesuatu. Saya menyadari bahwa setiap perupa pada akhirnya harus menemukan ruang belajarnya sendiri. Orang tua hanya dapat membuka pintu. Setelah itu, perjalanan harus ditempuh oleh masing-masing.

Pengalaman itu mengingatkan saya pada Setara Art Studio. Selama ini banyak orang mengira Setara adalah sebuah tempat. Padahal semakin lama saya menjalaninya, semakin saya percaya bahwa Setara sesungguhnya adalah cara memandang hubungan antarmanusia. Setara bukan berarti semua orang memiliki kemampuan yang sama, pengalaman yang sama, atau usia yang sama. Setara berarti setiap orang diberi kesempatan untuk bertumbuh menurut jalannya sendiri.

Di Rumah DAS keyakinan itu memperoleh bentuk yang nyata. Saya melihat bagaimana perbedaan usia tidak menghalangi percakapan. Perbedaan pengalaman tidak melahirkan jarak. Kami tidak sedang mencari siapa yang paling benar. Kami lebih banyak saling mendengarkan. Bahkan ketika berbeda pendapat, perbedaan itu tidak pernah terasa sebagai ancaman. Justru dari sanalah saya merasakan bahwa seni masih memiliki daya untuk mempertemukan manusia.
Barangkali itulah yang perlahan mengubah cara saya memaknai pameran.

Saya tidak lagi melihat pameran sebagai tempat memamerkan karya. Saya mulai melihatnya sebagai peristiwa kebudayaan. Sebuah ruang tempat pengalaman-pengalaman hidup yang berbeda dipertemukan, agar masing-masing dapat belajar membaca dirinya sendiri melalui pengalaman orang lain.

Dan mungkin, itulah yang sesungguhnya kami alami di Rumah DAS sebelum satu pun lukisan dipasang di dinding.
Barangkali ruang memang tidak pernah benar-benar menetap pada sebuah bangunan. Ia selalu berpindah mengikuti manusia-manusia yang bersedia hidup, mendengar, dan bertumbuh bersama. Dan selama perjumpaan masih mungkin terjadi, ruang itu akan terus menemukan rumahnya yang baru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMORI DAN WARNA Khas Gabrielle

Pameran “Anak & Seni Rupa” Hadirkan Dunia Imajinasi Anak di Rumah DAS

Tiang Senja : Estetika Kebebasan, Refleksi Subjektif, dan Dialektika Urban