Perempuan, Iluh, dan Rahim Tanah


Perempuan, Iluh, dan Rahim Tanah

Catatan proses seni pertunjukan teater “Iluh Tana”, karya Bu Silvi, Auditorium Teater ISI Yogyakarta

Oleh Cholsverde, Pemain Pertunjukan Gambar di Iluh Tana, dan Pegiat Lembaga Seni GugumTapa, Drawing Performatif, MelanCholis, Neat Project, Paravan Art Performance, Pasparto, Jogja Skopos Lab dan Indonesia Raya Menggambar

—- 

Ponsel saya bergetar sekali, pendek, tanpa aba-aba. Dari getaran kecil itu, tirai benak saya seperti terbuka. Bukan surat resmi berkop, bukan pula pengumuman panggung yang ditempel di mading jurusan. Hanya sebuah pesan WhatsApp dari seseorang yang dulu menjadi guru sekaligus ibu bagi saya, yang banyak membimbing sejak maba hingga lulus: Bu Silvi Purba, dosen wali saya.

Ia tidak sedang menawarkan pekerjaan malam itu. Ia seperti sedang mengulurkan sebuah luka, cita, dan cinta. Mengajak sekaligus memercayakan saya untuk ikut masuk ke dalam proses karyanya di atas panggung.

Begitulah Iluh Tana, tajuk naskah yang Bu Silvi ciptakan dan kemudian masuk ke dalam hidup saya. Bukan sebagai proyek yang harus diselesaikan, melainkan seperti titipan yang harus dijaga.

Malam berikutnya kami bertemu di sebuah tempat nongkrong kecil di belakang kampus ISI Yogyakarta. Tempat yang biasanya hanya menampung tawa ringan mahasiswa, malam itu berubah menjadi ruang pengakuan. Bu Silvi meletakkan lembar awal naskah di atas meja. Saya membacanya perlahan. Nama-nama tokohnya terasa seperti mantra: Tana, Air, Perempuan Satu, Perempuan Dua, Anak Satu, Anak Dua.

Tidak ada nama manusia yang lazim. Seolah Bu Silvi sengaja membiarkan tokoh-tokohnya kehilangan identitas personal agar duka yang mereka bawa dapat menjadi milik siapa saja.

Setiap kali menyebut Karo, suaranya seperti turun satu oktaf. Di situ saya mulai memahami bahwa yang sedang ia tuliskan bukan sekadar naskah teater, melainkan bagian dari jalan pulang. Darahnya mengalir dari tanah Sumatera Utara yang pernah ia ziarahi sendiri, mencari makam leluhur seperti mencari alamat rumah yang lama ditinggalkan dan hampir dilupakan.

Dalam perjalanan itu, ia menemukan sesuatu yang lebih dalam dari nostalgia: apa yang selama ini sering disebut orang sebagai “kemagisan” masyarakat Karo sesungguhnya dapat dibaca sebagai pengetahuan ekologis dan spiritual yang lahir dari pengalaman panjang hidup bersama alam.

Leluhur membaca tanah, membaca air, membaca tumbuhan, dan dari sanalah mereka merawat kehidupan.

Saya merasa ada ironi yang kuat di sana. Sesuatu yang oleh dunia modern mudah disebut takhayul, mungkin justru merupakan pengetahuan yang belum kita pahami bahasanya.


*Perempuan dan Perempuan Lainnya: Bu Silvi dan Di Luar Dirinya*

Ada luka yang tidak pernah benar-benar pindah alamat meskipun tubuh sudah lama tinggal di Yogyakarta. Bu Silvi bisa saja hidup tenang sebagai dosen teater, mengajar praktik dan teori di ruang kelas, jauh dari hutan, ladang, dan makam leluhur. Tetapi ingatan tidak selalu tunduk pada jarak.

Setiap kali berita tentang bencana datang—tanah longsor, sungai meluap, perubahan cuaca yang semakin sulit ditebak—ada sesuatu dalam dirinya yang lebih dahulu tersentak daripada nalar. Bumi yang terluka di berita itu seperti bumi yang pernah ia injak ketika berziarah ke tanah leluhurnya.

Dari kegelisahan itulah duka personal perlahan berubah menjadi duka yang lebih luas. Bukan lagi hanya milik seorang perempuan Karo yang hidup dan bekerja di Yogyakarta, melainkan duka siapa saja yang masih mau mendengarkan tanah ketika ia mulai kehilangan keseimbangannya.


*Alam Bukan Objek. Melainkan adalah Tokoh*

Pada hari-hari berikutnya, percakapan tentang naskah membawa saya bertemu dengan beberapa kerabat Batak yang tinggal di Sewon. Dari mereka saya mendengar tentang Karo, tentang persamaan dan perbedaannya dengan Toba, tentang ritual dan kepercayaan lokal yang masih dijaga, tentang simbol-simbol yang hadir dalam rumah adat, ukiran, warna dan kain.

Saya mulai melihat bahwa gambar dan simbol bukan sekadar hiasan. Di dalamnya tersimpan ingatan, silsilah, doa, dan cara manusia memahami hubungan dirinya dengan alam dan leluhur. Setiap guratan seolah membawa bahasa yang jauh lebih tua daripada aksara.

Dari sana saya semakin memahami mengapa dalam Iluh Tana, Tana dan Air tidak ditempatkan sebagai latar belakang. Keduanya menjadi tokoh.

Alam bukan objek yang diam untuk dipandang manusia. Ia adalah subjek yang ikut berbicara, ikut terluka, bahkan mungkin ikut menuntut kita untuk mendengarkan.

Gunung, sungai, tanah, air, pohon dan tubuh manusia tidak berdiri sendiri. Semuanya saling terhubung. Manusia bukan penguasa alam, melainkan bagian kecil dari kehidupan yang lebih besar.


*Lewat Panggung, Kita Kembali Ke Rahim: Tirai Dibuka Dengan Detak Jantung Artistik dan Dialog*

Kemudian tibalah malam pertunjukan.

Panggung Auditorium Teater ISI Yogyakarta dimulai dari gelap. Sebelum tirai terbuka, suara suling lebih dahulu hadir. Hembusannya seperti tangisan yang lama ditahan sebelum akhirnya pecah.

Saya, Cholsverde, bersama Mailani Sumelang melalui Duo Melancholis membangun adegan pembuka Manual Visual Performance. Bersama Guna pada lighting, kami mengolah cahaya seperti mengatur napas panggung. Instalasi garapan Om Feri dan Dadaw tergantung di atas ruang pertunjukan. Perlahan retak-retak muncul dalam visual yang kami susun, bertindih dan bersahutan, seperti tanah yang mulai kehilangan kelembapannya.

Dari kegelapan itu tubuh-tubuh mulai terlihat.

Dua anak menggendong Tana, seorang ibu yang tidak lagi mampu berjalan sendiri. Dua perempuan hadir bersama Air, saling menyahut dan menopang. Tubuh, bunyi, cahaya, instalasi dan gambar perlahan menjadi satu kesatuan.


Kami dari Melancholis menggelar garis dan gambar yang terlihat dari penonton di depan maupun dari apron panggung. Secara teknis kami bekerja di antara kabel, OHP, cahaya dan perangkat visual. Tetapi secara batin saya justru merasa paling tidak berjarak dengan dialog yang berlangsung di panggung.

Saya seperti kembali membaca naskah untuk pertama kalinya.

Kembali ke pertemuan dengan Bu Silvi.

Kembali ke cerita tentang tanah leluhur.

Kembali ke pertanyaan tentang bagaimana manusia memperlakukan alam.

Dialog para tokoh semakin terasa dekat. Saya tidak hanya sedang menjalankan bagian dari sebuah pertunjukan. Saya seperti sedang ikut membaca kembali diri sendiri melalui naskah itu.

Ketika pertunjukan selesai dan lampu penonton menyala, yang pertama saya lihat bukan sekadar tepuk tangan. Saya melihat lautan manusia yang memenuhi auditorium. Kursi tidak lagi cukup. Sebagian penonton duduk di lorong, tangga tribun, dan sisi-sisi ruang yang sebenarnya bukan tempat duduk.


Auditorium yang sudah lama tidak kami singgahi itu malam tersebut penuh oleh tubuh-tubuh yang datang menyaksikan tanah menangis.

Ada haru yang sulit saya jelaskan.

Haru karena kembali ke ruang lama.

Haru karena diajak oleh seseorang yang pernah membimbing perjalanan akademik saya.

Dan haru karena sebuah naskah yang lahir dari pengalaman personal Bu Silvi dapat berubah menjadi pengalaman bersama bagi ratusan orang.

Pada akhirnya tidak ada jawaban yang benar-benar selesai. Hanya pertanyaan yang dibiarkan menggantung, seperti instalasi yang tergantung di atas panggung:

Siapa sebenarnya yang sedang disembuhkan malam itu?

Tanah?

Leluhur?

Atau kita yang bermain dan mereka yang menonton?

Saya masih belum tahu jawabannya.

Yang saya tahu, malam itu saya pulang dengan membawa sesuatu yang tidak kelihatan, tetapi terasa berat di dalam dada: tanah yang menangis.

Terima kasih, Bu Silvi, telah mengajak saya masuk ke dalam perjalanan ini. Terima kasih kepada teman-teman aktor, koreografer, para musisi, pegiat artistik dan instalasi, lighting, make up dan kostum, serta seluruh tim kreatif dan produksi yang telah bekerja bersama.


Terima kasih juga kepada Tana dan Air. Mungkin melalui keduanya kita sedang diajak mengingat kembali sesuatu yang sebenarnya sejak dulu sudah dekat dengan kita: bahwa tanah bukan sekadar tempat kita berpijak, air bukan sekadar sesuatu yang kita gunakan, dan alam bukan sekadar pemandangan di luar diri.

Kita hidup di dalamnya. Dan mungkin, pada akhirnya, kita akan selalu kembali kepadanya.


Yogyakarta, 2026

Jurusan Teater ISI Yogyakarta


#ISIYK #IluhTana #SilviAPurba #TeaterISIYK #HMJTeaterISIYK

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMORI DAN WARNA Khas Gabrielle

Pameran “Anak & Seni Rupa” Hadirkan Dunia Imajinasi Anak di Rumah DAS

Ruang yang Berpindah Catatan Reflektif: Membaca Ruang Diri