Keterhubungan KeSelain-an dan Rumah Yang Berpindah. Catatan Refleksi Pameran “Diri dan Liyan” Dhewantara Manurung

Yogyakarta, Sewon, Jogja 2026
Catatan Seni oleh Cholsverde, Pegiat Seni di Gugum Tapa, Drawing Performatif, Indonesia Raya Menggambar dan beberapa lainnya, serta salah satu Sahabat Dhewantara

*
Ada satu titik di peta yang tidak pernah bergerak dalam hidup Dhewantara Manurung: sebuah makam leluhur bermarga Manurung, di suatu tempat di kampung halamannya. Dari sana, obrolan hangat terjadi pada kami di malam hari saat itu.

Baginya Dhewantara, kerabat yang tengah menggelar pameran tunggal pertamanya, semua yang lain bergerak. Ia sendiri berpindah dari Binjai ke Medan Kota, lalu Bandung, lalu kini menetap di Yogyakarta. Ayahnya berada di satu kota, ibunya di kota lain, sementara dua adiknya tersebar lagi di dua kota yang berbeda. Lima orang, lima kota. Tidak ada rumah yang benar-benar dapat disebut sebagai pusat. Tidak ada satu alamat yang pada suatu waktu tertentu mampu menampung seluruh keluarga, namun bisa saja berpindah. Yang tersisa sebagai tapak justru sebuah makam leluhur Manurung baginya yang diam, permanen, dan tidak berpindah ke mana-mana. Disanalah,  di sampingnya, Dhewantara pernah memulai pertanyaan terkait dirinya.

Barangkali karena itulah makam tersebut menjadi penting. Bukan semata sebagai tempat seseorang dikuburkan, tetapi sebagai sebuah titik yang masih memungkinkan Dhewantara bertanya dan mengatakan kepada dirinya sendiri: di sinilah sesuatu dari diriku pernah bermula. Bercerita kepada leluhurnya, dan merefleksikan gejolak batinnya.

Ada kalanya manusia tidak kehilangan tempat tinggal, tetapi kehilangan rasa memiliki terhadap sebuah tempat. Ia dapat berbentuk kamar, kontrakan, studio, bahkan kota yang disebutnya sebagai tempat tinggal, tetapi tetap merasa seperti seseorang yang sedang berada di luar rumah. Istilah yang bagi Dhewantara sendiri, ada momen ketika ia merasa “kehilangan identitas” di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban. Namun, seiring berjalannya waktu, ia meyakinkan sebenarnya hal itu bukan kehilangan baginya, namun sebuah lupa.  Maka pulang tidak selalu berarti kembali kepada rumah. Kadang pulang berarti mencari satu titik yang tidak bergerak ketika seluruh kehidupan bergerak terlalu cepat. Dan bagi Dhewantara, titik itu dibangun dengan perjumpaan-perjumpaan.

---

*Terbentuk dari Perpindahan

Kita sering membayangkan identitas sebagai sesuatu yang menetap: nama, asal-usul, keluarga, agama, suku, bahasa, atau tanah kelahiran. Seolah-olah semua itu merupakan fondasi yang kokoh, tempat seseorang berdiri dan mengatakan: “inilah saya”. Tetapi bagaimana jika seluruh fondasi itu ikut bergerak?

Dhewantara tumbuh dalam pengalaman perpindahan. Binjai, Medan, Bandung, Yogyakarta bukan hanya nama-nama kota dalam sebuah biografi. Kota-kota itu menjadi lapisan pengalaman yang perlahan membentuk sekaligus menggeser pengertian tentang dirinya sendiri. Di satu sisi, perpindahan membuka kemungkinan. Kota memungkinkan seseorang bertemu dengan manusia yang sebelumnya tidak pernah dikenalnya, gagasan yang sebelumnya tidak pernah dipikirkannya, serta kehidupan yang tidak tersedia di kampung halaman. Namun di sisi lain, setiap perpindahan selalu membawa kehilangan kecil.
Ada bahasa yang semakin jarang digunakan. Ada kebiasaan yang perlahan berubah. Ada orang-orang yang tidak lagi ditemui setiap hari. Ada rumah yang kemudian hanya menjadi kenangan. Bahkan keluarga sendiri dapat berubah menjadi sesuatu yang ditemui melalui perjalanan, telepon, pesan singkat, atau kepulangan sesekali.

Di titik itu, Diri tidak lagi terbentuk hanya dari apa yang kita miliki, tetapi juga dari apa yang telah kita tinggalkan. Diri menjadi semacam ruang transit. Ia membawa masa lalu, tetapi hidup di masa kini. Ia memiliki akar, tetapi terus berpindah. Ia ingin mengenali dirinya sendiri, tetapi setiap tempat baru menghadirkan kemungkinan bahwa dirinya akan bertumbuh lagi atau justru berubah lagi.

---

*Ketika Rumah Tidak Lagi Berupa Rumah

Pengalaman semacam ini barangkali bukan pengalaman Dhewantara seorang. Kota-kota besar hari ini dipenuhi manusia yang hidup dalam keadaan serupa: berpindah dari satu kota ke kota lain, meninggalkan keluarga, membangun kehidupan baru, lalu perlahan menciptakan pengertian baru tentang rumah.

Rumah tidak lagi selalu berupa bangunan.
Ia bisa berupa orang.
Bisa berupa bahasa.
Bisa berupa ingatan.
Bisa berupa makanan yang mengingatkan kampung halaman.
Bisa berupa nama keluarga.
Atau, dalam hidup Dhewantara, bisa berupa sebuah makam yang tidak pernah bergerak.
Di sinilah persoalan Diri dan Liyan mulai menemukan kedalamannya.

Sebab Liyan bukan sekadar orang lain. Liyan adalah segala sesuatu yang berada di luar diri kita, tetapi pada saat yang sama ikut menentukan siapa kita. Yang lain itu bisa berupa keluarga. Bisa berupa kampung halaman. Bisa juga leluhur. Bisa berupa masyarakat baru yang kita temui. Bahkan bisa berupa diri kita sendiri yang berasal dari masa lalu. Dengan demikian, manusia tidak pernah sepenuhnya menjadi dirinya sendiri. Kita menjadi diri melalui perjumpaan dengan yang lain.

---

*Antara Eksotis-Liyan dan Domestik-Liyan

Liyan tidak selalu berarti sesuatu yang jauh dan asing. Dalam pengalaman Dhewantara, ia juga dapat muncul dari sesuatu yang paling dekat: rumah, keluarga, marga, leluhur, dan kampung halaman. Dari sini lah, kita dapat mempertanyakan apa yang membedakan Eksotis-Liyan dan Domestik-Liyan?

Dhewantara berada di antara keduanya. Perpindahannya dari Binjai hingga Yogyakarta mempertemukannya dengan lingkungan urban, manusia-manusia baru, dan dunia spirit kreativitas yang berbeda. Namun perjumpaan dengan liyan yang baru itu justru membuatnya kembali berhadapan dengan liyan yang telah lama berada dalam dirinya.

Tetapi bagi Dhewantara, liyan tidak selalu menjadi jarak. Yang lain justru kerap ia jadikan rumah baru. Perkawanan, komunitas, dan perjumpaan seni di Yogyakarta perlahan menjadi ruang tempat ia membangun rasa memiliki kembali. Rumah kemudian tidak lagi semata-mata berupa alamat atau tanah kelahiran, melainkan dapat tumbuh dari orang-orang yang ditemui, percakapan yang dibangun, dan peristiwa seni yang dijalani bersama.
Maka perjalanan Dhewantara bukan sekadar meninggalkan rumah untuk mencari identitas. Ia seperti terus menemukan liyan, lalu menjadikan sebagian dari liyan itu sebagai rumah baru, cara baru, hingga jalan baru. Di antara rumah lama dan rumah yang terus dibangun melalui perjumpaan itulah, Diri Dhewantara berlangsung.

---

*Yogyakarta dan Liyan yang Baru

Ketika Dhewantara sampai di Yogyakarta, ia tidak sekadar berpindah kota. Ia memasuki sebuah lingkungan baru yang memiliki bahasa, kebiasaan, relasi sosial, dan ekosistem kebudayaan yang berbeda.

Yogyakarta, dengan dunia seni-nya, menghadirkan Liyan dalam bentuk yang lain lagi.

Ia bertemu dengan seniman, mahasiswa, komunitas, ruang alternatif, galeri, diskusi, praktik seni, dan berbagai cara manusia memandang kehidupan. Dari kecintaannya pada Musik, juga ketertarikan barunya ke Dunia seni rupa, kemudian menjadi salah satu lingkungan yang memungkinkan Dhewantara membaca ulang pengalaman hidupnya sendiri.

Menariknya, perjumpaan dengan dunia seni memang tidak serta-merta membuat persoalan identitas menjadi selesai. Tapi sebaliknya, seni justru menyediakan ruang, waktu, dan daya untuk mempertanyakannya kembali.

Di lingkungan urban dan ekosistem seni yang baru itu, pengalaman masa lalu tidak harus ditinggalkan. Ia dapat muncul kembali dalam bentuk yang berbeda: sebagai ingatan, kegelisahan, pertanyaan, maupun pencarian terhadap sesuatu yang sebelumnya terasa hilang. Maka perjumpaan dengan liyan tidak selalu berarti meninggalkan diri. Kadang justru melalui orang lain, kota lain, dan lingkungan yang sama sekali berbeda, seseorang mulai melihat dirinya sendiri dengan lebih jelas.

Yogyakarta dalam pengalaman Dhewantara dapat dibaca sebagai ruang semacam itu: ruang perjumpaan antara diri yang dibawa dari rumah dengan berbagai liyan yang ditemuinya setelah meninggalkan rumah.

---

*Wajah-Wajah yang Menatap dengan Mata Besar

Dalam karya-karya Dhewantara untuk pameran tunggalnya bertajuk “Diri dan Liyan", banyak suatu figur berbeda kostum berulang menonjol: karakter anak laki-laki, hadir dalam berbagai rupa dan corak, seperti berganti kostum tetapi tidak pernah benar-benar berganti identitas dasarnya. Kemiripannya dengan dua entitas visual Batak yang khas seperti kita ketahui: Puppet atau Boneka Sigale-gale dan topeng-topeng Batak (huda-huda, bohi-bohi, dan varian lainnya) tidak bisa dianggap kebetulan belaka, dan justru menjadi sedikit kunci untuk membaca keseluruhan pamerannya. Kemiripan visual tersebut setidaknya membuka kemungkinan pembacaan terhadap ingatan kultural Batak yang bekerja secara sadar maupun tidak sadar dalam praktik visual Dhewantara.

Perlu diingat kembali akar dari kedua entitas itu: Sigale-gale lahir dari legenda seorang ibu yang kehilangan putra satu-satunya, lalu seorang pematung diam-diam menggantikan jasad anak itu dengan sebuah patung agar sang ibu tetap merasa anaknya "hidup", meski dalam keadaan lemah, dari situlah nama gale-gale berasal. Dalam beberapa tradisi ini, ada kemiripan di anak laki-laki yang telah tiada direpresentasikan ulang lewat objek buatan patung yang digerakkan, wajah yang ditutup topeng, sebagai cara komunitas menampung kehilangan yang terlalu berat untuk ditanggung secara langsung.

Mungkin karena itulah wajah-wajah yang hadir dalam praktik karya Dhewantara terasa menarik.

Wajah-wajah itu sederhana. Tidak perlu dibaca sebagai representasi seseorang secara harfiah. Namun mata mereka yang besar menghadirkan kesan seolah-olah mereka terus melihat. Mereka bukan hanya wajah yang sedang dilihat. Mereka seperti wajah yang balik menatap. Di situlah hubungan Diri dan Liyan menjadi lebih subtil.

Ketika kita melihat wajah lain, sebenarnya kita sedang berhadapan dengan kemungkinan melihat diri sendiri. Liyan menjadi semacam cermin yang tidak memantulkan wajah kita secara persis, tetapi memperlihatkan bagian dari diri yang selama ini tidak kita kenali.

Mata yang besar itu, karena itu, dapat dibaca bukan sekadar sebagai pilihan bentuk. Ia seperti kesukaan dari sebuah pengalaman: keinginan untuk melihat sekaligus keinginan untuk dilihat. Barangkali ada sesuatu yang ingin dikenali melalui wajah-wajah tersebut. Bukan siapa mereka. Melainkan: siapa aku ketika berhadapan dengan mereka?

---

*Liyan yang Lahir dari Rumah

Dhewantara bukanlah seseorang yang datang semata-mata dari luar.

Ia justru lahir dari rumah.

Ia lahir dari keluarga yang berpencar. Dari marga. Dari leluhur. Dari kampung halaman. Dari ingatan tentang tempat yang semakin jauh. Dari pengalaman berpindah. Dan dari pertanyaan sederhana tetapi sangat sulit: jika semua yang membentukku telah berubah tempat, lalu di mana sebenarnya “aku” berada?
Mungkin karena itu pula hubungan dengan leluhur menjadi penting. Leluhur tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang sepenuhnya lain. Ia berada di dalam diri melalui nama, garis keluarga, cerita, ingatan, dan berbagai bentuk warisan yang sering kali tidak kita pilih sendiri.

Di sinilah paradoksnya:
Yang paling asing kadang justru berasal dari rumah sendiri.

Kita dapat merasa asing terhadap bahasa leluhur. Asing terhadap kampung halaman. Asing terhadap tradisi keluarga. Bahkan asing terhadap bagian diri yang dulu pernah begitu dekat.

Liyan tidak selalu berada di luar pagar. Kadang ia tidur di kamar sebelah. Kadang ia hidup dalam nama keluarga yang kita bawa. Kadang ia menunggu dalam sebuah ruang atau dimensi lainnya.

---

*Antara Menjadi dan Mencari

Dhewantara hidup di antara dua keadaan. Bagi kampung halaman, Ia adalah seseorang yang telah pergi, tetapi belum sepenuhnya meninggalkan. Bagi lingkungan baru, Ia adalah seseorang yang telah menemukan, tetapi masih membawa sesuatu dari lingkungan lama. Ia hidup di sini sekarang, di Jogja, tetapi memiliki satu titik yang terus mengarahkannya kembali kepada asal. 

Ia menjadi bagian dari dunia seni, tetapi pengalaman hidupnya tetap membawa persoalan yang jauh lebih tua daripada dunia seni itu sendiri: keluarga, tanah asal, leluhur, kehilangan, dan kebutuhan manusia untuk mengetahui dari mana ia berasal.

Maka “Diri dan Liyan” tidak bisa hanya dibaca semata sebagai persoalan identitas seorang seniman.

Ia dapat dibaca sebagai pertanyaan yang lebih luas tentang manusia yang pernah berpindah hari ini:
“Seberapa jauh kita dapat pergi tanpa kehilangan tempat untuk kembali?”
Dan ketika tempat itu sudah tidak lagi berbentuk rumah, kepada apakah kita sebenarnya pulang?

---

*Diri yang Terus Bergerak

Mungkin pada akhirnya, makam buyutnya di Binjai itu bukan sekadar tempat untuk mengenang seseorang yang telah mati. Ia adalah koordinat, sebuah titik kecil yang diam di tengah peta kehidupan yang terus bergerak.

Dari titik itu, perjalanan Dhewantara tidak dapat dibaca hanya sebagai garis dari Binjai menuju Medan, Bandung, hingga Yogyakarta. Ia adalah perjalanan antara pergi dan pulang, antara yang diwariskan dan yang ditemukan, antara rumah yang ditinggalkan dan lingkungan baru yang perlahan dipelajari untuk disebut sebagai rumah.

Di Yogyakarta, Dhewantara kemudian berhadapan dengan liyan yang baru baginya. Kota, pergaulan, kehidupan urban, dan dunia seni rupa mempertemukannya dengan berbagai cara hidup dan cara melihat yang sebelumnya belum ia miliki. Di sana ia tidak sekadar membawa identitas masa lalu, tetapi juga mengujinya kembali. Apa yang berasal dari rumah bertemu dengan apa yang ditemukannya di luar rumah. Apa yang dianggap sebagai “diri” berhadapan dengan begitu banyak “yang lain”.

Mungkin di situlah Dhewantara hari ini menemukan ruangnya: bukan sebagai usaha untuk menjawab siapa dirinya, tetapi sebagai cara untuk terus mengalami pertanyaan tentang siapa dirinya. Seni menjadi ruang perjumpaan. antara ingatan dan kenyataan, antara asal-usul dan kehidupan yang sedang berlangsung, antara diri yang dibawa dari masa lalu dengan liyan yang terus hadir di hadapannya. wajah-wajah dengan mata besar itu yang dihadirkan Dhewan, pada akhirnya, tidak perlu dipahami sebagai jawaban. Mereka telah hadir sebagai tatapan. Seperti seseorang yang sedang melihat keluar, sekaligus sedang menunggu dirinya sendiri untuk dikenali kembali. Sebab manusia mungkin memang tidak pernah selesai menjadi dirinya.
Kita pergi untuk menemukan diri, tetapi sering kali justru menemukan diri melalui apa yang bukan diri kita. Kita meninggalkan rumah untuk mengenal dunia, lalu dari dunia yang baru itu kita kembali melihat rumah dengan cara yang berbeda. Di suatu tempat di Binjai, makam itu tetap diam. Dhewantara terus bergerak.

Dan mungkin seni adalah salah satu cara gerak itu berlangsung: “membawa yang telah ditinggalkan ke dalam perjumpaan dengan yang baru, tanpa harus memilih salah satunya”.

Sebab barangkali rumah bukan lagi tempat untuk kembali, melainkan sesuatu yang terus dibawa, dipertanyakan, dan dibentuk ulang sepanjang perjalanan.

Dan selama Dhewantara masih bergerak, masih bertemu dengan liyan, masih melihat dan dilihat oleh dunia di sekitarnya, pencarian terhadap diri itu pun belum selesai.

Ia sedang berlangsung.

____________________


Komentar

Postingan populer dari blog ini

MEMORI DAN WARNA Khas Gabrielle

Pameran “Anak & Seni Rupa” Hadirkan Dunia Imajinasi Anak di Rumah DAS

Ruang yang Berpindah Catatan Reflektif: Membaca Ruang Diri